Tampilkan postingan dengan label The Red Zone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Red Zone. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2015

The Red Zone Part-5

  Entri Diary Sebelumnya

________________________________________________________

12 April, 2200

  Dear Diary,

Hari ini adalah hari keduaku dalam Zona Kuning. Kehidupan di sini benar-benar berbeda jauh dari Zona Hijau. Masyarakat hidup dalam kondisi yang kekurangan. Makanan sangat sulit untuk didapatkan. Pendidikan apalagi.

Hari ini aku dan Rattler pergi membeli makanan untuk kamp dan secara tidak sengaja melihat sebuah tank. Aku terkejut karena aku baru pertama kali melihat tank. Luar biasa sekali. Tank yang kulihat cukup kuat untuk merobohkan tembok yang sedang berdiri. Sekaligus mengusir siapapun yang sempat tinggal di situ. Sebelum aku bisa berbuat apapun, orang-orang yang tinggal di situ sudah hilang entah kemana.

Menurut Rattler, Zoners sudah pernah mencoba membantu masyarakat di sini dengan cara membagikan makanan, pakaian dan membantu gedung-gedung yang rusak. Namun mereka selalu saja terhambat oleh alien dan militer yang sedang berperang.

Kemudian, aku juga baru pertama kali mendengar bunyi tembakan. Walaupun jika dinilai dari suaranya, lokasi pertempuran masih sangat jauh tapi aku sangat takut. Menurut Rattler, ada kemungkinan jika alien mencoba menyerang lagi. Bisa jadi Rattler tidak salah karena militer bersenjata lengkap mulai memenuhi jalanan.

Aku benar-benar kebingungan dan sangat takut harus berbuat apa. Walaupun Rattler mengatakan bahwa aku tidak perlu takut, tetap saja aku takut sebuah peluru melesat menembus kepalaku. Aku ingin pergi ke Zona Merah... Tetapi di sisi lain aku tidak mau mati. Ah, tidak! Aku tidak akan mati di sini maupun di Zona Merah nanti. Aku harus tetap kuat. Besok, apapun yang terjadi, aku harus tetap kuat dan tenang.

Jika aku ketakutan hanya karena baku tembak di sini... Bagaimana nanti dengan Zona Merah? Aku harus berani. Aku harus tetap hidup dan menemukan aztifak yang dijanjikan. Apapun yang terjadi!

Untuk sekarang... Kurasa aku akan tidur dulu. Selamat beristirahat dunia, aku akan kembali lagi menyambut esok hari.
  ~ Yumeka ~

________________________________________________________

Senin, 22 Desember 2014

The Red Zone Part-4

  Entri Diary sebelumnya

________________________________________________________

11 April, 2200

  Dear Diary,

Hari pertamaku di Zona Kuning terasa penuh dengan kejutan. Zona Kuning tidak seperti yang kudengar di cerita-cerita dari Zona Hijau. Kenyataanya, Zona Kuning terasa seperti area yang sedang dilanda perang.

Gedung-gedung bekas terbakar, dan runtuh menghiasi pemandangan. Jalanan dipenuhi rongsokan kendaraan , sampah, debu dan pasir. Pohon adalah pemandangan yang jarang di sini. Udaranya terasa tidak enak dihirup. Ditambah lagi, matahari terasa sangat menyengat di tempat ini. Rakyat-rakyat di sini menjalani hidup yang sangat sulit. Aku merasa prihatin dengan nasib mereka.

Hari ini aku menginap di kamp Yarizona. Sebuah kamp untuk Zoners. Aku merasa sedikit gelisah karena seisi kamp semuanya laki-laki. Aku hari ini juga bertemu dengan Stayn, teman Rattler. Dia adalah seorang Zoners juga sekaligus teknisi yang menurutku sangat jenius.

Dia sangat ahli dalam persenjataan dan perlengkapan untuk memasuki Zona Merah. Dia memberiku satu set perlengkapan disertai penjelasan yang terlalu sulit untuk kupahami. Aku tidak sabar untuk pergi ke dalam Zona Merah dan segera menemukan aztifak yang dijanjikan lalu menjualnya untuk melunasi hutang keluargaku.

Ah iya. Bicara tentang Zona Merah. Stayn mengatakan aku tidak akan pergi sendirian dan akan bergabung dengan Zoners lainnya. Jadi, aku harus tinggal di sini untuk sementara. Kemudian, Stayn juga mengatakan sesuatu tentang musim dingin di Jakarta. Apa maksudnya? Sejak kapan Indonesia memiliki musim dingin? Ah entahlah... Aku masih tidak tahu banyak tentang Zona Merah.

Mungkin aku akan bertanya pada Rattler, Stayn dan Zoners lainnya besok. Sekaligus, aku harus kenalan dengan Zoners lainnya secepat mungkin, siapa tahu dengan begitu aku akan merasa lebih nyaman diantara mereka.


Catatan pada diri sendiri ; Aku heran kenapa mereka menganggapku laki-laki dan sebagai saudara mereka? Menurut Rattler, mereka menganggapku saudara karena ada ikatan persaudaraan yang sangat kuat antar sesama Zoners... Tetapi tetap saja, aku tidak nyaman dianggap sebagai laki-laki karena aku adalah perempuan.

Selamat beristirahat dunia, aku akan kembali lagi menyambut esok hari
  ~ Yumeka ~

________________________________________________________

Jumat, 07 November 2014

The Red Zone Part-3

  Entri Diary sebelumnya

________________________________________________________

10 April, 2200

  Dear Diary,

Setelah melalui banyak pertimbangan. Aku memutuskan untuk menyusup ke Zona Merah Jakarta dengan harapan, aku bisa menemukan aztifak yang dihargai Rp.50 Milyar - lebih dari cukup untuk membayar seluruh hutang keluargaku.

Tentu saja ayah tidak setuju. Tetapi setelah melalui perdebatan singkat, dia setuju juga untuk mengijinkanku pergi. Aku tahu, Jakarta adalah kota asal ibuku. Meskipun 17 tahun telah berlalu, aku yakin mungkin masih ada sedikit petunjuk tentang misteri hilangnya ibuku di Jakarta yang sekarang menjadi Zona Merah.

Aku berkonsultasi dengan Rattler, sahabatku sekaligus Zoners yang tahu lebih banyak tentang Zona Merah dibandingkan siapapun yang kukenal tentang cara menyusup ke Zona Merah. Dia memang belum mengatakan cara menyusup ke sana, tetapi dia setuju untuk membantuku.

Aku membawa HR-40 dan amunisinya, senapan laras panjang yang dikhususkan untuk memburu. Senapan itulah yang pertama kali kugunakan untuk belajar menembak. Aku juga tidak lupa membawa kartu identitas dan izin untuk memegang senapan untuk berjaga-jaga. Aku juga membawa beberapa pakaian dan celana ganti. Beberapa bekal, sebuah handuk, sisir, cermin, dan tabungan pribadiku.

Kupikir, aku akan langsung menuju ke Zona Merah Jakarta, tetapi menurut Rattler, aku tidak akan bertahan lama di Zona Merah jika seperti ini. Sehingga kita akan pergi ke Zona Kuning yang dekat dengan Zona Merah Jakarta. Dia ingin aku menemui seseorang. Aku sempat melihat suasana rumahku dan juga teman-temanku untuk terakhir kalinya. Siapa tahu, mungkin aku tidak akan pernah kembali ke sini lagi.

Aku penasaran, kehidupan di Zona Kuning itu seperti apa. Apakah seburuk yang kudengar dari kabar-kabar berita? Aku akan segera tahu kebenaran cerita-cerita tentang Zona Kuning sebentar lagi.

Catatan kecil untuk diri sendiri ; jangan berpikir untuk memakai rok di Zona Merah
  ~ Yumeka ~
________________________________________________________

Jumat, 15 Agustus 2014

The Red Zone Part-2

  Enrti Diary sebelumnya
____________________________________________________________________

1 April 2200


  Dear Diary,


Hari mendekati upacara kelulusan semakin dekat. Kami semua, lulus 100% dengan nilai yang membanggakan. Aku merasa senang sekali. Ditambah lagi, salah satu teman terbaik yang pernah kukenal, Rattler, baru saja kembali hidup-hidup dari Zona Merah membawa cerita-cerita menarik.


Aku ingin membuat hari-hari terakhirku bersama teman-teman menjadi sangat berkesan. Tetapi saat ini, ayahku secara tidak sengaja mentanda tangani kontrak dengan sebuah perusahaan dan akibatnya, kami terlilit hutang sebesar Rp.20 milyar. Itu bukan angka yang kecil bagi keluarga kami.

Saudara-saudaraku semuanya hanya memikirkan diri sendiri. Jadi aku tidak begitu yakin kalau mereka mau membantu. Mungkin saja mereka akan membantu, tetapi tentu saja dengan imbalan.



Ibu yang menghilang secara misterius beberapa hari setelah aku lahir juga sampai sekarang tidak terdengar kabarnya. Aku bahkan tidak pernah tahu wujud ibuku seperti apa. Kuharap dimanapun dia berada, dia baik-baik saja.


Ah, kuharap cepat atau lambat, keluargaku mendapat jalan keluar. Sementara itu, aku akan terus bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi di hadapan teman-temanku. Aku tidak ingin upacara kelulusan kami diwarnai dengan rasa prihatin terhadapku.


Selamat malam dunia. Aku akan kembali lagi esok hari.
  ~ Yumeka  ~

______________________________________________________________


Sabtu, 26 Juli 2014

The Red Zone Part-1

  The Red Zone, adalah sebuah cerita fiksi bersetting pada tahun 2200 yang hancur. Cerita ini dibuat karena penulis (Green Leaper) merasa tertantang mencoba menulis sesuatu selain parodi dan "Zano & Kawanan". Catatan menarik lainnya, cerita ini terinspirasi dari atmosfir-apocalypstic dari S.T.A.L.K.E.R. dan Metro.

Part sebelumnya, menjelaskan tentang beberapa hal penting mengenai cerita fiksi ini.

Sabtu, 19 Juli 2014

The Red Zone Opening

  The Red Zone, adalah sebuah cerita fiksi bersetting pada tahun 2200 yang hancur. Cerita ini dibuat karena penulis (Green Leaper) merasa tertantang mencoba menulis sesuatu selain parodi dan "Zano & Kawanan". Catatan menarik lainnya, cerita ini terinspirasi dari atmosfir-apocalypstic dari S.T.A.L.K.E.R. dan Metro.