Sabtu, 24 September 2016

Stranger in War Part-6

  Stranger in War adalah sebuah cerita fiksi yang mengisahkan tentang seorang laki-laki yang kehilangan ingatan dan berusaha bertahan hidup di lingkungan barunya. Bersama dengan teman-teman barunya, dia menemukan dirinya terjebak di tengah-tengah perperangan antara Resistance dan Empire.

Part sebelumnya,  Lightshot beserta dengan Violet dan Cerina pergi ke Ruins of Loneliness karena atas rasa penasaran Cerina. Di sana, mereka tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menjuluki dirinya Shadowbane, seorang pengguna Qi elemen tanah yang sakti. Lightshot membawa lari Cerina dan Violet dari tempat itu dan melompat ke sungai. Namun, kesadarannya hilang sesaat setelah berenang ke tepi.



Stranger in War
Part-6
Pemulihan!



 Gah... Aku membuka mataku. Kepalaku masih terasa sedikit sakit tetapi sudah lebih baik. Aku menyadari saat ini aku ada di dalam sebuah ruangan. Ketika aku bangun, aku melihat Cerina sedang membaca sebuah buku di atas kasur.

  "Selamat pagi" sapa Cerina sambil menutup bukunya
  "Kita dimana?" tanyaku
  "Salah satu pos resistance. Kita ditemukan oleh patroli mereka dan dibawa ke sini"

Huh... Diselamatkan kawan-kawan seperjuangannya Violet ya? Ah! Violet?! Dimana dia?! Aku memerhatikan sekelilingku. Hanya ada sejumlah kasur dengan beberapa peralatan medis di sebelah tiap kasur.

  "Violet? Mana dia?" tanyaku
  "Mereka merawatnya di ruang berbeda. Sampai sekarang anggota Resistance tidak mau mengijinkan aku untuk menjenguknya" jawab Cerina
  "Apa dia menderita luka separah itu?"
  "Entahlah... Menurut mereka kita pingsan selama sehari. Kuharap lukanya Violet tidak parah"

Sial... Kalau saja aku bertindak untuk mengatasi Shadowbane waktu itu mungkin saja Violet dan Cerina tidak akan terluka. Selain khawatir tentang Violet, aku juga mengkhawatirkan diriku sendiri; kenapa aku tiba-tiba sangat khawatir pada Violet?

  "Mau menjenguknya?" tanya Cerina
  "Sudah pasti. Tapi bukankah tadi kau bilang kita tidak diizinkan untuk menjenguknya?" balasku
  "Ayoah Lightshot. Kau itu berbeda dari orang-orang yang kutemui, aku sangat yakin kau bisa membuat Resistance mengijinkan kita kan?"

Aku menganggukan kepalaku. Aku melangkah ke arah dan mencoba mendorong pintu. Tetapi tampaknya pintunya dikunci dari luar. Ini bukan penjara kan? Ini pasti hanya ruang rawat kan? Karena aku melihat peralatan medis dimana-mana.

  "Pasukan Resistance tidak mau melihat kita berkeliaran sampai mereka bisa memastikan jika kita berdua bersih" ucap Cerina kembali membaca buku

Aku hanya menggaruk kepalaku. Yah... Resistance adalah pasukan gerilya dan untuk memusnahkan pasukan gerilya diperlukan lebih dari sekedar angkatan bersenjata yang besar. Tidak... Angkatan bersenjata yang besar bukanlah solusi yang tepat untuk pasukan gerilya.

Memiliki mata-mata yang bisa menginformasikan pergerakan gerilya adalah suatu aset dalam memerangi pasukan gerilya. Menemukan persembunyian mereka, mengajak lokal untuk melawan balik gerilya. Pada dasarnya perang gerilya adalah perang semesta.

Memang benar Violet tampaknya sangat mempercayaiku dan Cerina tetapi itu bukan berarti seluruh Resistance mempercayai kami berdua. Kemungkinan besar yang paling dicurigai adalah diriku karena tidak ada yang tau persis asal-usul diriku bahkan aku sendiri saja tidak tau apa-apa.

Aku menggelengkan kepalaku. Ini bukan saatnya untuk melakukan analisa! Aku harus segera menemukan Violet dan aku tidak akan menunggu untuk saat itu. Aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri.

Aku mengetuk pintu perlahan. Huh... Pintu ini tampaknya dibuat dari kayu yang lumayan kuat. Aku mengepalkan tanganku, menarik napas sesaat dan berjalan mundur beberapa meter. Aku berlari ke arah pintu dan memaksa mendorong pintu dengan segenap kekuatanku yang ada.

BRAK!!! Pintu kayu pun terbuka lebar. Aku bisa melihat dengan jelas pasukan Resistance yang sedang berjalan di lorong luas terkejut dan mereka bersiap-siap untuk menyerangku.

  "Hoi! Lightshot?" ucap Cerina kaget
  "Aku tidak tau pendapatmu Cerina, tetapi aku TIDAK AKAN duduk diam di sini sementara aku mengkhawatirkan Violet"

Dari kerumunan pasukan Resistance, ada seorang ksatria perempuan berwajah familiar yang maju menghampiriku. Ah iya... Orang itu.... Kalau tidak salah dia bersama kelompoknya Violet waktu pertama kali aku bertemu Violet di hutan kematian.

  "Ingin memeriksa Violet ya?" tanya dirinya
  "Ya. Kumohon! Izinkan aku untuk menemuinya" jawabku
  "Dan jika kami menolak?"
  "Aku akan tetap pergi menemuinya" balasku. "Jika aku tidak bisa melihatnya, setidaknya mohon biarkan aku menyampaikan apa yang ingin kukatakan padanya secara langsung!"

Aku langsung bersujud di hadapan ksatria ini. Aku tidak tau mengapa, intinya aku melakukannya tanpa berpikir. Cerina juga keluar dari dalam ruangan dan ikut bersujud.

  "Aku juga!" pinta Cerina. "Aku telah membuat Violet pergi bersamaku ke reruntuhan. Jadi jika anda ingin menghukum seseorang, hukumlah aku"
  "Tunggu dulu!" teriakku. "Cerina, dia itu ikut karena dia ingin melihat kegilaanku kan? Seharusnya aku yang disalahkan"
  "Tetapi jika kau tidak ikut maka dia tidak ikut. Kau sendiri yang memutuskan untuk ikut! Jadi ini salahku!" balas Cerina
  "Baru pertama kali aku melihat secara langsung istilah melempar kesalahan memiliki makna yang lain" ucap salah satu anggota Resistance

Ksatria perempuan ini menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil-kecilan. Pasukan Resistance yang di sekitar kami juga turut menggelengkan kepala mereka.

  "Tidak heran kenapa dia sangat dekat dengan kalian. Kalian tidak jauh berbeda dengannya" ucap ksatria perempuan ini. "Berdirilah. Cerina, Lightshot"

Kami berdua berdiri. Ksatria perempuan ini memberikan sebuah pedang padaku. Apa ini? Aku lebih terbiasa menggunakan pisau dan tangan kosong.

  "Namaku Erin Zei. Aku adalah letnan Resistance. Violet sering membicarakan kegilaanmu, jadi aku ingin melihat sendiri kemampuanmu. Dengan ini aku menantangmu dalam pertarungan 1 lawan 1!" ucapnya sambil menunjukan ujung tombaknya padaku
  "Erin.. Zei? Si Iblis Merah?!" gumam Cerina. "Lightshot, kau tidak akan bisa menang melawannya!"
  "Cerina, aku tidak berencana untuk menang tetapi aku juga tidak berencana untuk kalah" jawabku

Cerina diam sesaat kemudian menganggukan kepalanya perlahan. Dia mundur sama seperti orang-orang di sekitar kami membentuk semacam lingkaran yang sangat luas. Aku menghunus pedang yang diberikan padaku. Erin tersenyum melihat aku menerima tantangannya.

  Sebelum aku berkedip, Erin sudah berlari dan bermanuver dengan gila! Dia mengayunkan tombaknya ke arahku dan aku selalu berhasil menghindar di saat-saat terakhir. Gerakannya terlalu cepat untukku jadi aku hanya bisa menghindar di saat-saat terakhir.

Aku mencoba untuk mencari celah untuk menyerang tetapi Erin menyerang dengan sangat agresif. Dia selalu berhasil membuatku menghindar terus-menerus dan aku tak begitu punya waktu untuk bisa melawan balik.

Semakin lama gerakanku semakin melambat karena aku mulai merasa kelelahan. Gerakan Erin juga mulai melambat dan aku mencoba menyerang di setiap kesempatan aku melihat celah. Tetapi karena aku tidak pernah menggunakan pedang sebelumnya, tak heran Erin bisa memblok seranganku.

Erin tiba-tiba membuat manuver cepat. Dia menangkis seranganku dan membuatku menjatuhkan pedangku setelah dia memutar tanganku dengan tombaknya. Dia menendangku hingga aku tersungkur ke belakang lalu dia mengacungkan ujung tombaknya tepat 10 cm di hadapan wajahku. Ya... Aku kalah.

Erin tersenyum sesaat kemudian menjauhkan ujung tombaknya dari wajahku. Cerina menghela napas dan menunjukan rasa lega. Dia berlari membantuku berdiri.

  "Lightshot.." ucap Cerina dengan wajah sedikit cemas
  "Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir" balasku singkat
  "Lightshot. Kau punya refleks yang gila untuk bisa menghindar tetapi kau masih lambat dan seranganmu benar-benar buruk" ucap Erin.

Aku menundukan kepalaku. Apa ini berarti aku tidak bisa menemui Violet? Entah kenapa aku merasa menjadi sangat tidak bersemangat. Erin tiba-tiba melemparkanku sebuah surat.

  "Violet berada di ruang paling ujung dari lorong ini. Tunjukan surat itu sebagai tanda persetujuanku untuk menemuinya" ucap Erin
  "Tetapi aku tidak menang" balasku
  "Ini bukan soal menang atau tidak nak" balas Erin sambil berjalan pergi
  "Erin! Terimakasih!" balasku dan Cerina kompak

 Erin hanya melambaikan tangannya sambil terus berjalan tanpa berbalik. Orang-orang yang menonton kami pun ikut bubar dan kembali. Aku tidak begitu memahami maksud perkataan Erin tetapi aku merasa sangat senang.

Aku dan Cerina berlari menuju ruangan yang dikatakan oleh Erin tadi. Berkat surat yang diberikan oleh Erin, kami diperbolehkan masuk oleh penjaganya.

Kami tau ruangan hanya dikhususkan untuk Violet jadi hanya ada yang dirawat dalam ruang ini. Begitu kami masuk, hanya ada sebuah tempat tidur dengan selimut yang menutup seluruh tempat tidur tersebut.

Kami berdua berdiri di samping tempat tidur itu. Apa Violet sedang tertidur pulas? Apakah kita harus berbicara sekarang ataukah kita harus kembali nanti saja?

Saat aku sedang berpikir, tiba-tiba saja ada yang mendorongku dengan sangat kuat dari belakang. Aku terjatuh ke tanah, kepalaku menghantam sisi tempat tidur. Aku menggaruk-garuk kepalaku sambil menatap siapa yang mendorongku tadi ~ ternyata Violet. Dia tertawa lebar dengan kedua tangannya di pinggang.

  "Ahahahahaahah!!!" tawa Violet melihatku. "Lightshot! Ekspresimu itu... Aduh, lucu!! Ahahahahaha!"

Violet mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri. Dia masih tertawa terbahak-bahak sementara aku masih menggaruk-garuk kepalaku yang terasa sakit.

Dasar... Apakah perempuan ini bahkan sadar kita sangat khawatir dengan kondisinya? Yah, setidaknya dia terlihat baik-baik saja sudah membuatku merasa lega.

  "Maaf, maaf... Ahahaha" ucap Violet. "Jadi, apakah Erin menghajarmu dengan baik?"
  "Kau ini sebenarnya ingin melihatku mati ya?" keluhku
  "Violet, bagaimana keadaanmu? Kami tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu" tanya Cerina

Violet tersenyum lebar. Dengan penuh semangat dia memukul kepalanya beberapa kali dengan tangannya kemudian mengacungkan jempolnya pada Cerina.

  "Sudah baikan kok. Kepalaku ini sekeras batu" ucap Violet dengan bangga
  "Ya, kau memang kepala batu Violet" selaku menyindirnya
  "Be-berisik! Kau menghancurkan metaforaku!" balas Violet

Cerina menatapku sesaat. Aku menganggukan kepalaku.

  "Violet, kami ingin meminta maaf" ucapku mewakili Cerina
  "Hmn?" Violet melihat wajah kami dengan ekspresi penuh rasa bingung
  "Kami membuatmu terluka seperti ini. Seharusnya kita tidak pergi ke tempat itu" ucap Cerina membungkukan badannya sedikit

Violet terdiam sebentar. Dia menarik napas sebentar lalu mencubit telingaku dan telinga Cerina kemudian dia tersenyum lebar pada kami berdua. Dia merangkul kami berdua.

  "Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Violet dengan santai. "Tidak jadi masalah apapun yang terjadi padaku! Selama kita bertiga masih bisa gila bersama-sama, aku tidak akan menyesali apapun yang kita lakukan"
  "Violet..." gumam Cerina
  "Jadi! Jangan kalian coba-coba merasa bersalah atas apa yang terjadi kalau kalian tidak mau aku mencubit telinga kalian lagi! Mengerti?"

Kami berdua terdiam sesaat. Kami berdua menganggukan kepala kami sebagai respon kami. Aku tidak menyangka dia akan memberi jawaban tadi. Dia benar-benar perempuan yang mengagumkan. Entah kenapa, jawabannya yang barusan membuatku dan Cerina merasa senang.

  "Jadi? Apa yang selanjutnya akan kita bertiga lakukan?" tanya Violet sambil menatapku dan Cerina bergantian
  "Em.... Ki-kita baru saja pulih kan?" ucap Cerina ragu-ragu

Aku hanya tersenyum saja. Aku mulai sedikit paham kenapa Erin menantangku tadi. Dia mencoba mengetes kemampuanku apakah aku mampu menjaga Violet lain kali ataukah tidak. Baiklah! Sudah kuputuskan! Aku akan berlatih dengan giat supaya bisa menjaga Violet dan Cerina!

Ada sejumlah barang-barang tak terpakai di penginapan Alice. Jika Alice mengijinkanku menggunakannya, mungkin aku bisa membuat tempat latihan sendiri.

  "Oooh! Aku tahu!" Violet menatap ke langit sesaat. "Kita bertiga bisa mencoba memancing buaya raksasa di sungai yang tak jauh dari Whiterun... Atau kita mungkin bisa mencoba memburu kepiting raksasa hanya dengan menggunakan tombak!"
  "Itu gila! Iya kan Cerina?" selaku
  "Benar! Daripada kita membunuhnya, lebih baik kita mencoba menangkapnya hidup-hidup!" balas Cerina
  "Cerina?! Itu bahkan lebih gila!" protesku
  "Hmn... Benar juga. Aku belum pernah mencoba memakan daging buaya dan kepiting raksasa" ucap Violet

GAH! Apa yang salah dengan kedua wanita ini?! Cerina dan Violet sama-sama gilanya dan sepertinya mereka berdua juga tidak akan menangkap inti pembicaraan masing-masing. Apa itu berarti aku hanyalah satu-satunya orang yang masih waras diantara kami bertiga?

Hufft... Kenapa mereka berdua mau memburu buaya dan kepiting raksasa? Aku justru ingin mencoba memburu lipan raksasa yang kami temui di reruntuhan. Aku penasaran apakah daging mereka bisa dimakan ataukah tidak.

  "Ide bagus Lightshot!" ucap Cerina dan Violet kompak
  "Hah?"
  "Kau baru saja berpikir untuk memakan lipan raksasa kan? Bagaimana kalau kita bertiga memburu buaya-lipan-kepiting raksasa?" ucap Violet
  "Kalian membaca pikiranku? Lagipula apaan itu buaya-lipan-kepiting raksasa? Hybrid ketiga spesies tersebut?" tanyaku
  "Ya untuk semua pertanyaanmu!" jawab Violet semangat

Aku terdiam... Aku baru menyadari 1 hal... Aku tak pantas untuk mengatakan mereka gila. Aku juga sama gilanya dengan mereka. Sekarang aku mulai paham kenapa Erin mengatakan aku dan Cerina sangat mirip dengan Violet. Huh, tak heran kenapa aku dan Cerina cepat akrab dengan Violet.

**************
Bersambung

  Part selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar