Minggu, 05 Februari 2017

Aku Tak Ingin Melindungi Dunia Ini Part-4

  Episode sebelumnya! Kami sampai di desa Lakeia dan dengan cepat menyadari jika desa ini sedang menderita karena danau kebanggaan mereka telah tercemari oleh kutukan dari iblis. Aku bisa saja memurnikan danau ini tetapi aku tidak ingin membongkar identitas rahasiaku di depan kakak Stellarin dan walaupun aku memurnikan danau ini, selama iblis yang mencemarinya tidak dimurnikan juga maka cepat atau lambat, danau ini akan kembali tercemari.

Kami pun pergi ke kuil pengikutku dan bertemu dengan sesosok Priestess yang.... Pemabuk? Eh? Tunggu dulu.... Apakah aku benar-benar memiliki orang seperti dia sebagai pengikutku? Aku bisa merasakan energi magis yang sangat kuat dan itu mungkin alasan kenapa dia bisa menjadi Priestess tetapi sifat dan cara berbicaranya..... Apakah dia benar-benar Priestess?





***************
Aku Tak Ingin Melindungi Dunia Ini
Part-4
Masalah di Lakeia!

  Mendengar cerita jika Zein dan komplotannya berniat untuk memurnikan air danau, Reealnya hanya diam sesaat dan mengajak mereka masuk ke dalam ruang tamu di gedung tempat tinggal para pengurus kuil.

Dalam gedung tempat tinggal para pengurus kuil terkesan sangat luas karena tertata rapi. Tiap-tiap pengurus memiliki ruang pribadi. Di sepanjang ruang terdapat banyak ukiran-ukiran Dewi Kehidupan Airyn. Aone hanya terkesan memandangi ukiran-ukiran tersebut karena gambaran manusia tentang dirinya benar-benar hampir mirip dengan wujud aslinya.

Zein, Aone dan Stellarin duduk pada kursi kayu yang ada. Reealna berjalan mengambil sebuah botol air dari sebuah rak yang tak jauh kemudian berjalan kembali menghampiri mereka.

  "Aku tidak tahu rencana macam apa yang kalian miliki, tetapi ini adalah salah satu dari sisa persediaan air suci yang kami miliki" ucap Reealna
  "Tunggu dulu, apa maksudmu dengan... Salah satu dari sisa?" tanya Zein
  "Seperti yang kalian ketahui, Dewi Kehidupan Airyn sudah berhenti menjawab doa-doa dari para pengikutnya semenjak 12 tahun yang lalu. Kami bisa saja membuat air suci, tapi tanpa pemberkatan dari Dewi pemalas itu maka air ini tidak akan begitu efektif" jawab Reealna

Aone hanya menundukan kepalanya sesaat. Semenjak dia bereinkarnasi sebagai manusia, dia secara otomatis kehilangan kemampuan untuk mendengarkan doa dari pengikutnya dan selama dia tidak bisa menuangkan seluruh kekuatannya dalam wujud manusianya; dia tidak akan pernah bisa mendengar doa pengikutnya lagi.

  "Botol ini.... Memiliki pemberkatan dari Dewi Airyn. Jika kalian menyia-nyiakannya, aku akan menghajar kalian semua sampai babak belur.... Kau, wanita setengah-bugil itu dan anak kecil itu" ancam Reealna
  "Hoi! Siapa yang kau panggil wanita setengah bugil dasar wanita pemabuk!!!" protes Stellarin
  "Aku bukan anak kecil!!!" Protes Aone

Setelah protes sesaat. Aone kembali menundukan kepalanya lagi. Zein yang sudah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Aone hanya tersenyum. Dia memegang botol air itu yang masih dipegang juga oleh Reealna.

  "Yah... Kau bilang Dewi Kehidupan Airyn tidak mendengarkan doa lagi kan?" tanya Zein
  "Ya, memangnya kenapa?" balas Reealna datar
  "Aku memang tidak tau apa-apa soal Dewi atau Dewa atau hal-hal seperti itu, tetapi jika dia tidak memberi pemberkatan pada air ini, akan kucari dia dan kuhajar dia dengan buku dongeng sampai dia kembali mendengarkan doa dari pengikutnya. Kemudian kami akan menemukan iblis yang mencemari danau ini dan menendang pantatnya ke hadapan patung Dewi Airyn" jawab Zein dengan serius

Mendengar itu, Aone mengangkat kepalanya, menatap Zein. Aone tersenyum mengetahui ucapan barusan menunjukan betapa seriusnya Zein ingin membantu Aone untuk menolong orang-orang di Lakeia.

  "Yah, aku memang pengikut Dewi Perang tetapi menghajar iblis terdengar keren juga" Stellarin juga ikut tersenyum. Dia berdiri dan memegang botol tersebut juga.

Zein dan Stellarin memandang pada Aone. Dengan penuh semangat dia bangkit berdiri dari tempat duduknya dan memegang botol tersebut juga.

  "Aku yakin, Dewi Airyn pasti masih ada... Mungkin saja dia sedang minum teh atau ke kamar mandi" ucap Aone berpura-pura polos

Reealna hanya tersenyum kecil mendengar ucapan-ucapan dari ketiga orang yang dianggapnya orang bodoh. Dia menutup kedua matanya untuk mencoba berdoa pada Dewi Kehidupan yang sebenarnya ada di hadapannya. Stellarin juga ikut menutup matanya untuk berdoa, meskipun doanya diajukan pada Dewi Perang.

Zein melirik kiri-kanan untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihat mereka. Setelah yakin tak ada orang yang memperhatikan mereka, Zein menganggukan kepalanya pada Aone. Dengan diam-diam dan cepat, Aone mengalirkan sedikit kekuatan magisnya ke dalam air suci di dalam botol.

  Ketika selesai berdoa, Zein, Stellarin, dan Aone berpamitan dan berjalan meninggalkan kuil pengikut Dewi Kehidupan. Di tengah-tengah perjalanan, Stellarin memijat tangan kanannya dan terlihat tidak sabar untuk segera menghajar iblis lagi.

  "Okeeee! Waktunya menghajar iblis lagi!!!" ucap Stellarin dengan semangat yang membara. "Zein, kalau kau bisa menghabisi lebih banyak dariku, aku akan memotong jumlah hutangmu!"
  "Tidak, kita tidak akan kembali ke danau lagi" sela Zein dengan santai

Mendengar ucapan Zein, Stellarin dan Aone terkejut dan berhenti berjalan. Mereka tahu, jika mereka tidak menemukan iblis yang mencemari danau tersebut maka tindakan mereka yang sekarang akan sia-sia tetapi itu sama sekali tidak menjelaskan kenapa Zein mengatakan jika mereka tidak akan kembali ke danau lagi.

  "Apa maksudmu?! Iblis yang mencemari danau pasti ada di danau kan? Kita hanya perlu menghajar mereka semua sampai dia muncul!" protes Stellarin yang sangat yakin dengan kekuatan fisiknya
  "Dengarkan aku, perempuan setengah bugil, ada hal lain yang mengganggu pikiranku" jawab Zein. "Aone, simpan ini air ini"

Aone mengambil botol air suci dan memasukannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Zein berjalan menuju batu besar terdekat dan duduk.

  "Aku menemukan pecahan botol di pinggir danau. Kalian tau kan apa artinya itu?" tanya Zein
  "Um... Iblis juga suka minum?" jawab Stellarin
  "Bukan! Itu berarti, ada orang lain yang mengunjungi danau itu selain kita. Namun dari keterangan yang kita dapat dari Wirk, orang-orang yang berani ke danau hanyalah para petualang, namun tidak ada satupun petualang yang pernah sampai dekat dengan danau"

Stellarin menggaruk kepalanya karena tidak begitu memahami apa yang barusan dikatakan oleh Zein sementara Aone di sisi lain memahami maksud dari Zein. Ya, mereka bertiga adalah orang-orang pertama yang berhasil sampai tepat di tepi danau.

Mengingat pecahan botol yang ditemukan Zein masih dalam kondisi bersih, baru dan masih mengeluarkan aroma, maka bisa diasumsikan jika ada orang lain yang bisa mendekati tepi danau juga tanpa diserang oleh iblis... Dan satu-satunya orang yang bisa mendekati tepi danau tanpa diserang iblis...

  "Satu-satunya orang yang bisa mendekati danau tanpa diserang iblis.... Sekte Planare ya?" tanya Aone
  "Benar, aku curiga setidaknya ada satu orang di desa Lakeia yang merupakan anggota sekte Planare" sambung Zein
  "Tetapi, apa yang dilakukan oleh sekte sesat itu di sini? Untuk apa mereka harus ada di sini jika ada iblis yang mereka sembah berkeliaran di tempat ini juga?" tanya Stellarin
  "Orang-orang sekte planare dikenal bisa membuat perjanjian dengan iblis. Kemungkinan anggota mereka ada di sini bertindak sebagai pengawas untuk iblis yang berkuasa di area ini. Jika kita bisa menemukan siapa orang ini...." gumam Aone
  "Kita bisa memancing keluar iblis yang berkuasa" sambung Zein

Zein dan Aone menganggukan kepala mereka pada saat bersamaan. Stellarin hanya bisa menggaruk-garuk pipinya karena dia sama sekali tidak memahami diskusi yang barusan.

  "Untuk sekarang, kita tak punya banyak petunjuk yang jelas jadi aku ingin kita semua tinggal di desa ini untuk sementara. Pastikan kalian mengawasi sekeliling kalian, jika ada yang mencurigakan, segera laporkan padaku" perintah Zein

************

  Mereka bertiga pun mulai menetap untuk sementara di desa Lakeia untuk memecahkan masalah yang sedang menimpa desa ini.

Stellarin yang berbakat dalam bertarung dan pembuatan senjata bekerja paruh waktu membantu Wirk di tokonya dan melatih orang-orang di desa Lakeia untuk melawan balik iblis. Pengalamannya sebagai mantan anggota kelompok tentara bayaran benar-benar terlihat dari bagaimana keras dan tegasnya dia dalam melatih para warga dalam bertarung.

Zein bekerja paruh waktu pada penginapan untuk menutupi biaya menginap dan kehidupan sehari-hari mereka. Tentu saja, karena bekerja di penginapan, Zein bisa mendapatkan banyak sekali informasi walaupun sebagian besarnya adalah gossip.

Aone..... Tetaplah Aone. Dia ingin membantu Stellarin dan Zein tetapi karena umurnya masih di bawah, dia tidak diperbolehkan bekerja. Dia biasanya menghabiskan waktunya bermain dengan anak-anak kecil lainnya atau dimanjakan oleh Stellarin yang menyukai anak kecil atau diabaikan oleh Zein seperti biasanya.

Sudah seminggu mereka menetap dan masih juga belum menemukan suatu informasi yang bisa mengarah pada anggota sekte planare, hingga suatu malam, Stellarin berlari secepat mungkin menuju penginapan tempat Zein bekerja.

Kebetulan pada malam tersebut adalah malam sebelum persiapan festival kemakmuran ladang jadi penginapan tempat Zein bekerja sangat sepi; hanya ada Zein dan pemiliknya saja yang masih begadang membersihkan lantai sementara Aone sudah tertidur pulas di kamar sewaan.

BRAK! Stellarin mendobrak masuk dengan tergesa-gesa.

  "Oh? Stellarin?" sapa pemilik penginapan
  "Ah, selamat malam perempuan setengah bugil" sapa Zein
  "Zein! Gawat! Ini benar-benar gawat!" sela Stellarin berlari menghampiri Zein dan mengabaikan pemilik penginapan
  "Ada apa? Apakah ada orang yang menguntitmu?" tanya Zein tak terlihat khawatir sama sekali
  "Bu-bukan itu!" Stellarin menggelengkan kepalanya. "Aku pikir aku mungkin mencium bau mayat tak jauh dari desa!"

Mendengar kalimat barusan, pemilik penginapan menjadi khawatir. Dia mengambil pedang miliknya yang tersembunyi di bawah meja bar.

  "Apakah mungkin serangan dari monster?" gumam pemilik penginapan
  "Tidak, aku yakin Stellarin hanya mencium bau ketiaknya sendiri" balas Zein dengan tenang
  "Uuuuh!!! Zeeiiin! Aku serius!!!" geram Stellarin
  "Ooooh" balas Zein. "Paman, untuk sekarang jangan bunyikan alarmnya dulu. Biarkan perempuan sinting ini mencari tau apa yang-"

Karena kesal, Stellarin langsung menarik tangan Zein. Zein hanya bisa kaget betapa kuatnya Stellarin menggengam tangannya dan bisa berlari lebih cepat daripada Zein apalagi mengingat Stellarin juga memikul Desolator di punggungnya. Zein hanya berpikir jika dia berani macam-macam dengan perempuan ini, maka sudah pasti Stellarin akan dapat mengalahkannya dengan sangat mudah.

  "Cepat-cepat! Sebelum mayatnya terlanjur melarikan diri!" ucap Stellarin
  "Apa maksudmu dengan kalimatmu barusan?! Kau mau kuhajar ya?!" protes Zein

Stellarin membawa Zein pada sebuah tempat yang tak jauh dari desa, tetapi tempatnya sangat sepi dan gelap. Hal pertama yang dicium oleh hidung Zein adalah bau busuk yang sangat menyengat hidungnya.

Zein langsung menutup hidungnya begitu mereka sampai di tempat tersebut. Stellarin, anehnya bisa bernafas baik-baik saja seolah-olah hidungnya telah terbiasa mencium bau menyengat seperti itu.

  "Benar kan Zein?! Tempat ini benar-benar bau! Pasti ada mayat di sekitar sini!" ucap Stellarin

Dengan penuh semangat, Stellarin memegang ganggang Desolator miliknya dan mengayunkannya; hampir saja kepala Zein ditebas karena Stellarin tak memperhatikan ke arah mana dia mengayunkan Desolator miliknya yang maha berat itu.

  "Ayo iblis!!! Keluarlah! Aku akan menebas badanmu dan memotong lidahmu! Kemudian akau akan membuat lidahmu menjadi sayur tumis! KAU DENGAR?! AYO KELUAR DAN BERTARUNGLAH SEPERTI WANITA!!!!" teriak Stellarin


Zein memukul belakang kepala Stellarin dengan sangat kuat dan dengan wajah yang sangat marah. Stellarin spontan berbalik ke belakang karena kesal.

  "Apa yang kau lakukan Zein?! Iblisnya tidak akan keluar bahkan jika kita saling bertarung!" protes Stellarin
  "Apa yang kau lakukan perempuan sinting setengah bugil?!?! Ini adalah tempat pembuangan sampah!!!" tegur Zein. "Tentu saja tempat ini baunya busuk sama seperti isi kepalamu itu!!!"

Ya benar, Stellarin membawa Zein ke tempat pembuangan sampah. Namun Stellarin sama sekali tidak tahu jika tempat ini adalah tempat sampah bahkan jika ada tumpukan sampah yang menggunung di mana-mana dan mengira mungkin bau busuk yang diciumnya berasal dari mayat.

Zein menghela nafas kesal untuk sesaat kemudian menggelengkan kepalanya. Dengan santai dia berbalik dan berjalan pergi. Menyadari Zein berniat pergi Stellarin menarik tangan Zein.

  "Hoi, kau mau ke mana?" tanya Stellarin
  "Kembali ke penginapan" jawab Zein
  "Lalu iblisnya?"
  "Tidak ada iblis, lihatlah sekitarmu bodoh!!!" balas Zein
  "Tapi kan ada baunya"
  "IYA TENTU SAJA BAU!!! AAAARRRGHHH!!!!"

Zein memegang kepalanya dengan kedua tangannya; mencoba untuk menahan rasa kesalnya karena Stellarin tampaknya tak kunjung-kunjung memahami situasi sekarang. Zein memegang pundak Stellarin dan menatapnya dengan serius. 

  "Dengar, apa kau bahkan paham apa yang sedang terjadi sekarang?" tanya Zein
  "Umm.... Kau marah tanpa alasan?" balas Stellarin
  "Tidak. Kau membawaku ke tempat sampah. Sampah itu bau. Tidak ada iblis di sini oke?"
  "Oooh... Oke...."
  "Bagus, sekarang kita kembali ke penginapan ya?"

Ketika Zein melepaskan pegangannya, dia baru menyadari wajah Stellarin menjadi sedikit merah tetapi dia memilih untuk berpura-pura tak melihatnya dan berjalan pergi dari tempat pembuangan sampah. Zein hanya menghela nafas untuk membuang rasa kesalnya secara perlahan-lahan. Dia tidak menyangka jika Stellarin kurang bisa berpikir dengan akal sehat.

Beberapa puluh menit berjalan kembali ke desa, desa Lakeia dapat terlihat di depan mata. Namun Zein tiba-tiba berhenti berjalan dan menarik tangan Stellarin untuk bersembunyi di belakang pohon.

  "Zein?"
  "Ssssh!!!" tegur Zein sambil menutup mulut Stellarin

Zein mengintip dari balik pohon. Dari kejauhan dia melihat sesosok Priestess sedang berjalan keluar dari dalam sebuah gedung sambil melihat kiri-kanan, seolah-olah tidak ingin ada yang mengetahui jika dia ada di sana.

Zein mencoba memfokuskan kedua matanya untuk memperhatikan siapakah sosok Priestess tersebut namun karena sosok itu berdiri membelakangi tempat persembunyian Zein dan Stellarin, dia tidak bisa mengidentifikasi siapakah sosok itu karena semua Priestess mengenakan seragam yang sama dan selalu terlihat sama dari belakang.

  "Apa yang dilakukan Priestess di luar kuil tengah-tengah malam? Apalagi sambil memperhatikan sekelilingnya seperti itu" pikir Zein

Karena dia tidak menyembah satupun Dewi atau Dewa, pengetahuan Zein tentang kehidupan dan peraturan hidup Priest dan Priestess sangat minim tetapi baginya sangat aneh untuk melihat seseorang memperhatikan sekelilingnya seperti tidak ingin diikuti pada malam hari di tempat yang sepi.

Setelah menunggu 1 menit, sesosok orang dengan jubah hitam datang menghampiri Priestess tersebut. Melihat sosok jubah hitam itu, Zein jadi teringat dengan sekte Planare yang dihabisinya waktu pertama kali bertemu dengan Aone. Jubah hitam yang warnanya hampir sama dengan kegelapan malam...

Zein tak mau menarik kesimpulan sosok itu adalah sekte Planare karena dia sadar jika jubah seperti itu bisa didapatkan dengan harga murah di pasaran dan karena kurangnya pencahayaan, Zein tak bisa memastikan apakah jubah tersebut memiliki logo sekte Planare ataukah tidak.

  "Zmnhf?" gumam Stellarin
  "Ssshh" balas Zein

Sosok tersebut berbincang-bincang dengan Priestess untuk sesaat dan kemudian terlihat dengan jelas Priestess tersebut memberikan sekantong uang pada jubah tersebut kemudian mereka kembali berbincang. Tak lama kemudian, sosok jubah hitam memberikan sesuatu dalam bentuk kantong pada Priestess tersebut dan mereka berpisah; Priestess tersebut kembali masuk ke dalam desa sementara sosok jubah itu menghilang secara tiba-tiba yang menandakan dia bisa menggunakan magic.

Zein hanya bisa penasaran apa yang mereka bicarakan. Dia tersenyum karena bisa saja mereka sudah menemukan suatu petunjuk.

Stellarin menurunkan tangan Zein dari mulutnya dan terlihat sedikit kesal.

  "Zein, dasar kau bajingan tak sopan! Aku tahu kau menganggapku imut tapi kau tak boleh menutup mulutku seenaknya saja! Aku punya harga diri sebagai ksatria" omelnya
  "Oooh" balas Zein dengan datar. "Stellarin, aku ada urusan yang harus kuselesaikan jadi bisakah kau kembali ke penginapan duluan?"

  Mendengar itu Stellarin hanya mengangkat alis matanya dan menatap Zein dengan curiga. Karena dia tak suka menganalisa situasi, Stellarin hanya berpikir Zein ingin mengunjungi tempat hiburan malam dan seingatnya tak ada tempat seperti itu di desa Lakeia.

Hanya dengan menatap kembali Stellarin, Zein sudah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh temannya ini. Mengetahui Stellarin adalah tipe orang yang susah memahami situasi akan lebih baik jika Zein menguntit Priestess tadi sendirian dan Zein tahu persis 1 cara efektif untuk menyuruh Stellarin pergi.

  "Pergilah ke penginapan dan urus Aone. Dia biasanya akan bangun dan mencari orang untuk membacakannya cerita sebelum tidur. Ceritakanlah sesuatu padanya sampai dia tertidur" ucap Zein
  "B-benarkah?" tanya Stellarin dengan semangat. "Baiklah! Kalau begitu aku pergi duluan! Jangan pulang kemalaman!"

Tanpa berlama-lama Stellarin melangkah secepat mungkin kembali ke penginapan. Zein menghela nafas dan mengikuti Priestess yang tadi secara diam-diam.

Menggunakan kegelapan sebagai kamuflasenya, Zein secara hati-hati mengikuti Priestess tersebut yang masih tak menyadari jika dirinya sedang diikuti. Melangkah, berlari dan bergerak tanpa suara merupakan suatu keahlian yang sangat langka dan Zein memiliki keahlian tersebut dari hasilnya berpetualang selama bertahun-tahun di luar sana.

Berkali-kali Zein mencoba melihat wajah Priestess tersebut tetapi gagal karena kurangnya tempat yang bisa dijadikan persembunyian untuk melihat tanpa ketahuan. Karena jarak dari 1 bangunan ke bangunan lainnya sangat luas, Zein hanya bisa mengandalkan tempat-tempat yang gelap.

Priestess tersebut berjalan ke kuil pengikut Dewi Kehidupan dimana dia masuk ke dalam gedung tempat tinggal para pengurus kuil dan mengunci pintu. Zein pun memutuskan untuk mendiskusikan hal ini esok hari.

***********

  Pagi harinya, Zein mengumpulkan Aone dan Stellarin di jembatan penghubung danau dengan desa. Zein membicarakan hasil pengintaiannya tadi malam pada mereka berdua secara detail. Alasan kenapa Zein mengumpulkan mereka di tempat tersebut karena tidak ada orang yang berani mendekati tempat itu dan seandainya jika ada orang yang berani, maka mereka pasti akan terlihat oleh mereka bertiga. Ya, Zein ingin memastikan penyelidikan mereka bertiga tetap terjaga rahasianya.

  "Hmn, jadi kau curiga pelakunya adalah salah satu Priestess di kuil?" tanya Aone
  "Masih terlalu cepat untuk segera melabeli Priestess sebagai pelaku. Masalahnya adalah, aku sendiri tidak tahu apa yang dilakukan Priestess tengah malam begitu. Bagaimana menurutmu Aone? Kau kan.... Yah, kau tahu lah" komentar Zein

Aone melirik pada Stellarin untuk sesaat. Stellarin masih belum mengetahui jika Aone sebenarnya adalah reinkarnasi Dewi Kehidupan Airyn yang disembah oleh para Priest dan Priestess di kuil.

  "Tidak ada peraturan yang melarang seorang Priestess atau Priest untuk pergi meninggalkan kuil tetapi dari caramu menjelaskan membuatku curiga juga" ucap Aone
  "Woooh, Aone, kau mempelajari tata kehidupan seorang Priestess ya?" komentar Stellarin menepuk-nepuk kepala Aone
  "Ehehe, iya kakak Stellarin!" jawab Aone memasang wajah polos
  "Begitu ya... Lalu apakah kau ada saran supaya kita bisa memancing keluar orang yang kucurigai?" tanya Zein

Aone menatap ke langit sesaat untuk berpikir. Sebagai Dewi Kehidupan Airyn, dia tahu persis peraturan-peraturan yang dibuat oleh para pengikutnya serta juga ritual-ritual yang mereka lakukan untuknya. Tiba-tiba saja dia menjentikan jarinya.

  "Besok adalah hari kemakmuran. Aku yakin orang-orang pengurus kuil tidak akan keluar hari ini karena mereka akan sibuk memperhatikan persiapan untuk esok hari" ucap Aone.
  "Kenapa kita tidak bisa langsung bertanya pada mereka satu per satu saja?" keluh Stellarin
  "Memangnya apakah pelakunya akan mengaku?" tanya Zein
  "Ya tentu saja tidak. Yang perlu kulakukan adalah memukul mereka semua satu per satu sampai mereka mengaku!" jawab Stellarin sambil menunjukan otot tangannya

Mendengar itu Aone dan Zein langsung keringat dingin dan kompak berpikir jika Stellarin ini benar-benar tidak punya akal sehat dan kurang bisa diajak untuk memecahkan masalah dengan cara yang tak bersangkutan dengan kekerasan.

Lagipula memukul Priest atau Priestess di dalam kuil tanpa alasan yang kuat akan membawa masalah bagi mereka. Apalagi saat ini mereka adalah pengembara... Jika mereka terlibat masalah dengan hukum, maka akan sulit untuk mendapatkan pengacara.

  "Hoi, apa yang kalian bertiga lakukan di situ?"

  Teriakan tersebut mengagetkan Zein dan kawan-kawannya. Mereka menoleh ke sumber suara dan melihat Reealna; Priestess pemabuk berjalan menghampiri mereka dengan ekspresi yang sedikit garang. Tangan kirinya memegang sebuah perisai dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat besi pada tangan kanannya.

  "Apa kalian bertiga bodoh? Berkumpul di tempat seperti ini?" tegurnya

Zein spontan menutup hidungnya ketika Reealna berbicara di hadapannya karena nafas dan bau mulutnya tercium seperti minuman keras. Apalagi dengan wajahnya yang sedikit berwarna merah, jelas-jelas menunjukan dia baru meminum bir.

  "Oi pemabuk, kau sadar nafasmu itu bau kan?" kritik Zein
  "Memangnya kenapa? Kalau kau suka; baguslah. Kalau kau tak suka; terserah" balas Reealna kasar. "Aku paham kalian memang berniat untuk memurnikan air danau tetapi kalian hanyalah seorang pengembara, seorang perempuan setengah bugil, dan anak kecil"
  "Aku bukan anak kecil!!!" Protes Aone
  "Dan siapa yang kau panggil setengah bugil?!" bentak Stellarin

Zein memperhatikan Reealna dari kaki hingga kepala.

  "Kau sendiri, kenapa kau di sini?" tanya Zein. "Bukankah kau harusnya berada di kuil bersiap-siap untuk melaksanakan ritual?"
  "Kuil kehabisan stok tanaman herbal. Jadi aku turun untuk memetik beberapa helai tanaman" jawabnya. "Sekarang pergilah ke suatu tempat dan jangan coba-coba mendekati tempat ini sampai aku bisa melihat kalian datang dengan orang yang jumlahnya sangat banyak dengan mata kepalaku sendiri"

Stellarin langsung tersenyum lebar. Dia merenggangkan kedua tangannya dan memegang Desolator miliknya dengan sangat kuat.

  "Berarti yang perlu kita lakukan hanya membuktikan jika kita lebih kuat daripada banyak orang kan?" tanya Stellarin. "Priestess atau bukan, aku suka bertarung"

Zein dan Aone langsung pucat. Mereka tahu sekali Stellarin bertarung, dia tak akan berhenti sampai lawannya terluka parah atau terbunuh dalam pertarungan. Mengingat status Reealna sebagai Priestess, itu akan menjadi masalah yang sangat besar.

Aone langsung memeluk kaki Stellarin sementara Zein menarik Stellarin menjauhi Reealna yang kebingungan melihat tingkah mereka.

  "Aaaha, maaf-maaf! Kami akan segera pergi sekarang!!" ucap Zein.
  "Hei! Tapi aku ingin ber-"
  "Emm, aku ingin mendengarkan dongeng tadi malam lagi kakak Stellarin!" ucap Aone
  "Eh? Kau ingin mendengarkannya lagi?" Stellarin menatap Aone dan langsung melupakan keberadaan Reealna. "Yah~ apa boleh buat"

Stellarin dengan penuh semangat langsung berjalan pergi mengikuti Aone dan Zein menjauh dari Reealna yang hanya diam menatap mereka; kebingungan harus bereaksi seperti apa tanpa menyadari jika seandainya Zein dan Aone tidak campur tangan maka nyawanya akan berada dalam bahaya.

  "Dasar orang-orang aneh...." ucapnya. "Lagipula kenapa tumbuhan yang kuperlukan harus tumbuh dekat dengan tempat ini?"

Reealna menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan ingatannya tentang mereka bertiga dan melanjutkan perjalanannya untuk memetik tumbuhan yang diperlukannya.

Sementara itu, Aone membuat Stellarin sibuk menceritakan kembali dongeng tadi malam padanya. Zein berhenti melangkah sesaat dan menatap ke langit. Tak lama kemudian dia tersenyum sebagai tanda jika mungkin dia telah memiliki rencana tersendiri.

*************
Bersambung

  Episode selanjutnya!

  Eh.... Tunggu dulu... Kita sudah sampai di bagian terakhir dari seri di Lakeia?! Cepatnya! Padahal kakak Stellarin hanya memiliki 1 episode saja untuk kemunculannya, kenapa kakak Reealna punya 2 episode?! Jika episode berikutnya keluar maka jadi 3 episode!

Ahm, yah... Episode selanjutnya! Zein akhirnya menemukan sebuah solusi untuk memecahkan masalah di Lakeia. Walaupun sebenarnya aku sedikit ragu-ragu apakah rencanannya ini aman ataukah tidak...

  "Aone? Kau berbicara pada siapa?"

Am, tidak! Tidak! Kakak Stellarin, tolong ceritakan dongeng tadi malam lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar