Sabtu, 18 Januari 2014

Zano & Kawanan : Kembali ke Jepang Part-4

  "Zano & Kawanan : Kembali ke Jepang" adalah sebuah episode dari cerita berseri "Zano & Kawanan" buatan Green Leaper.

Part sebelumnya, Zano berhasil menyelamatkan salah satu anak didiknya Zaki. Hari pertama dari event pun dimulai hari ini!

Happy Reading!


************
Zano & Kawanan
Kembali ke Jepang
Part-4
Hari Pertama

  "Bagaimana Zano? Apakah kita siap?" tanya Zaki
  "Yoi! Gue udah mengecek kondisi semua bus. Semua baik-baik aja kok" jawab gue

  Anak-anak kelas 2C mulai menaiki bus sambil menyapa kami berdua. Zaki bisa membalas dengan ucapan lain tapi gue cuma bisa senyum-senyum sambil mengangguk aja. Berhubung yang tau jalan cuma Zaki, maka mau enggak mau, dia harus di ada di dekat gue. Kalo enggak, entar kita semua nyasar.

Kadang-kadang gue noleh ke belakang untuk memastikan semua murid didikannya Zaki (yang sedikit mewarisi sifatnya Zaki sendiri) sudah ada. Masih ada banyak tempat kosong dan masih ada waktu 2 jam lagi sebelum berangkat.

  "Zan... Cewek lu Zan!" Zaki menunjuk ke luar
  "Cewek gue?" gue melihat ke arah yang ditunjukan Zaki. "Airi?"

Airi sedang berjalan ke arah bus ini. Rambutnya masih tetep dikuncir 2 kayak kemaren... Dia jadi terkesan seperti... kekanak-kanakan. Bentar...

  "Apa maksud lu dengan dia itu cewek gue?!" gue protes ke Zaki
  "Seisi sekolah menganggap kalian itu.."
  "Elu mungkin lupa gue lebih suka produk dalam negri" protes gue
  "Gua juga! Tapi gua malah jadian sama produk luar negri!" balas Zaki
  "Itu kesalahan lu Zak!"
  "Zano! Ayo kita selesaikan ini dengan cara lama!" Zaki menatap gue dengan serius
  "Oke! Siapa takut!"

Para murid yang ada kebingungan dengan tingkah kami berdua. Zaki mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya. Gue juga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas gue juga. Kami berdua menatap satu sama lain seperti orang yang mau adu kekuatan.

  "Peraturan biasa. 1 card draw, LPnya 8000. Starting card di tangan sebanyak 5" kata Zaki
  "Heheh, akan gue selesaikan ini dalam 5 putaran" balas gue

Kami berdua membuka isi kotak masing-masing. Kartu yuji atau apalah namanya itu. Kartu ini adalah permainan kami berdua dulu ketika kami benar-benar bosan atau memperdebatkan sesuatu yang sama sekali gak penting.

Seperti yang gue bilang, gue berhasil mengalahkan Zaki dalam 5 putaran.

  "Elu dari dulu gak berubah... Tetep menang dalam hal ginian" keluh Zaki
  "Itu karena elu cuma pake paket starter" balas gue dengan tidak semangat
  "Zaki-sensei, kami kira Zaki-sensei akan berkelahi dengan Zano-san" tanya salah satu murid yang duduk di deretan paling belakang
  "Hahaha, Minami. Kami berdua tidak pernah benar-benar berkelahi. Seperti inilah persahabatan kami berdua" balas Zaki

Kami berdua kembali merapikan permainan kartu yang barusan kami mainkan. Airi mulai masuk. Rambut dan senyumannya adalah hal pertama yang menarik perhatian gue.

  "Selamat pagi!" sapa Airi

Kami berdua kompak mengacungkan jempol ke arah Airi. Anak-anak yang ada di dalam bus langsung menyapa Airi juga. Tapi mereka memanggilnya dengan kata "sensei" di belakang. Gue masih penasaran apakah Airi juga pernah mengajar di SMP sini.

  "Dia pernah menjadi guru kesenian di sini Zan" kata Zaki
  "Elu udah baca pikiran gue ya?" keluh gue

Semakin mendekati waktu keberangkatan, semakin banyak anak-anak kelas 2C yang datang. Tepat pada waktu keberangkatan, bus sudah dipenuhi oleh para murid. Zaki sempat berbicara dengan Airi dengan bahasa Jepang. Perasaan gue mengatakan Zaki sedang merencanakan sesuatu.

  Airi berdiri di sebelah gue. Jangan bilang ini pasti gara-gara hasutannya Zaki. Zaki dari dulu memang terkenal sangat pintar dalam menghasut orang. Mungkin karena dia mempelajari ilmu psikologi manusia? Entahlah...

Zaki malah mundur ke belakang. Gue noleh ke Zaki. Zaki tersenyum sambil memberi bahasa kode... Cuma gue dan Zaki yang paham bahasa kode yang kami buat.

  "Ini kesempatan Zan. Jangan ragu-ragu"

Gue geleng-geleng kepala pertanda gue gak ngerti maksudnya apaan. Gue tau apa yang dia katakan lewat bahasa kodenya tapi gue gagal memahami maksudnya. Zaki menepuk jidatnya.

  "Sudah waktunya. Sekarang mari kita pergi Zan" kata Zaki
  "Ahh.... O...ke" balas gue

Gue menyalakan mesin bus lalu menutup pintu bus dan menguncinya. Lalu memulai perjalanan. Sepanjang jalan, malah Airi yang menunjukan jalan bukan Zaki. Tentu aja, di saat perjalanan, kami berdua juga banyak berbicara tentang diri kami masing-masing.

Gak tau kenapa, tapi Airi keliatannya nyaman dengan tingkah laku gue yang aneh. Jarang ada cewek yang merasa nyaman dengan segala kegilaan dan keanehan gue.

Saat dalam perjalanan, gue melihat ada kakek-kakek sedang mencoba menyebrangi jalan. Gue spontan langsung berhenti dan keluar dari bus dan membantu kakek-kakek itu menyebrangi jalan lalu kembali lagi ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan.

**************

  Setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai juga di tujuan dengan selamat. Zaki langsung membimbing muridnya berjalan keluar dengan tertib. Airi juga berjalan keluar dengan kamera di tangannya. Dia kan ditugaskan untuk mendokumentasi kegiatan ini.

Gue tinggal di dalam bus.... Karena gue males keluar. Gue sempat melihat Yui. Apa yang dilakukan tuh anak? Apa dia juga ditugaskan kayak Airi? Ah... Bodo amat.

  "Zano-san" bisik Airi
  "Hm? Airi? Ada apa?"
  "Ayo!"

Airi menarik tangan gue. Kampret, malah gue dibawa keluar dari dalam bus dan mengikuti kegiatan muridnya Zaki. Ada semacam peternakan domba. Gue akui, domba-domba di sini... Liatnya unyu-unyu. Beberapa siswa dan siswi sedang memberi makan domba-domba itu.

  "Ayo Zano-san, kita lihat lebih dekat lagi!"

Nih anak kenapa semangat banget? Gue dibawa sama dia untuk mendekati domba lalu dia mulai mengambil foto dari domba-domba itu. Tiba-tiba salah satu domba menatap gue. Gue memberi domba itu tatapan kosong.

Lalu, gak tau kenapa, dombanya malah lari menyerang gue.

  "Kampret!" teriak gue

Gue langsung lari keluar dari peternakan. Domba itu kayaknya gak mau keluar dari peternakan. Bukannya dibantuin, gue malah diketawain. Gue spontan memanjat pohon.

Airi, Zaki, Kaito dan beberapa murid berjalan ke bawah pohon yang gue panjati. Mereka menatap gue sambil menahan tawa.

  "Zano-san! Turunlah!" kata Kaito
  "Zan! Turun bro!" teriak Zaki
  "Zano-san, turunlah Zano-san" bujuk Airi

Gue lupa bagaimana caranya turun dari pohon.

  "Tidak terimakasih. Gue akan menghabiskan sisa waktu di atas pohon aja" balas gue
  "Yakin? Liat ke atas lu" balas Zaki

Gue lihat ke atas. Gawat! Sarang lebah! Lebah-lebah di situ sudah mengumpulkan masa dan langsung terbang ke arah gue. Gue spontan langsung lompat dari atas pohon. Sumpah, kaki gue berasa mau patah... Tapi gue langsung berdiri lagi dan berlari secepat mungkin ke dalam peternakan lagi.

  "MINGGIR! HEWAN-HEWAN LAGI MEMBENCI GUE!" teriak gue dengan panik

***************

  Gue sedang duduk di belakang peternakan. Hari udah sore. Untung pemilik peternakan punya penangkal lebah jadi nyawa gue terselamatkan. Kenapa kayaknya seluruh hewan membenci gue?

Gue jalan-jalan sendirian di sini aja. Gue gak mau gabung sama yang lain. Gue gak mau dikejar-kejar hewan lagi... Kapok, kapok, kapok dah gue!

Saat gue sedang jalan-jalan, gue melihat Airi. Sedang duguk membaca... Memakai kacamata yang pernah gue lihat. Gue menghampirinya dari belakang. Gue harap gue gak kelihatan seperti penculik di mata orang.

  "Yo!" sapa gue

Airi melihat ke belakang. Dia kaget. Spontan dia menyembunyikan kacamatanya di belakang dan merapikan rambutnya. Cepet amat gerakannya.

  "Ah! Zano-san"
  "Hm? Kenapa kacamatanya dilepas?" tanya gue
  "Kacamata? Kacamata apa?" jawab Airi

  Dia berbohong... Kayaknya dia malu kalo orang lain tau kalau dia memakai kacamata. Meskipun raut wajahnya seperti benar-benar polos, tapi kalau perempuan berbohong, tatap saja matanya... Gue bisa tau cewek itu bohong atau kagak lewat matanya.

  "Jangan berbohonglah Airi" keluh gue
  "Benar, aku tidak punya kacamata kok"

Gue menghela napas.

  "Jangan malu-malu"

Gue duduk di sebelahnya lalu mengambil kacamatanya. Bener dugaan gue! Ini bukan kacamatanya Einstein eh, maksud gue bukan kacamata buat gaya-gayaan tapi buat membantu pengelihatan yang gangguan. Airi keliatan sangat malu.

  "Jangan malu kenapa sih" keluh gue
  "Ano... Menurut keluargaku, aku kelihatan berbeda kalau memakai kacamata"
  "Berbeda?" gue garuk-garuk kepala
  "Keluargaku, sudah turun temurun punya mata yang lebih tajam dibandingkan orang pada umumnya. Tapi tidak denganku. Aku... Berbeda. Sebenarnya, menurut keluargaku... Aku punya mata yang terkutuk" balas Airi
  "Ha?" gue mengangkat alis kiri
  "Aku akan menunjukannya padamu Zano-san. Tapi... Janji jangan takut ya?" pinta Airi
  "Yo, tenang aja. Gue janji" Gue mengacungkan jempol
  "Lihat mataku Zano-san"

Gue menatap mata Airi. Pupil matanya tiba-tiba saja berubah mirip seperti pupil mata kadal. Gue kaget. Gak tau kenapa, ketika gue menatap matanya, gue bisa merasa seperti... Mati. Airi memejamkan matanya lalu membuka matanya lagi. Matanya sudah kembali normal.

  "Zano-san... Tidak takut?" tanya Airi
  "Enggaklah" jawab gue

Airi kelihatan lega mendengar jawaban gue. Dia... Sebenarnya apaan?

  "Dulu waktu aku masih bayi, aku pernah diculik oleh sekelompok penjahat. Mereka menggabungkan aku dengan DNA kadal. Harapan mereka, supaya aku menjadi alat yang bisa dipakai mereka" kata Airi
  "DNA kadal ya..." gumam gue
  "Eksperimen mereka gagal, karena hanya mataku saja yang bisa berubah. Aku diselamatkan oleh Kakaknya Yui. Tapi, dia mati ditembak. Waktu aku kembali ke lingkunganku dengan mata terkutuk itu, mereka jadi... Menganggapku berbeda. Mereka mengasingkanku"
  "Kejam sekali" balas gue
  "Ya. Banyak sekali orang-orang yang mengatakan bahwa aku ini pembawa sial... Karena mataku terkutukku ini, masih diincar mereka sampai sekarang... Mereka akan membunuh siapapun yang berani menghadangi jalan mereka untuk mendapatkanku"

Gue diem sebentar lagi. Angin sedikit berhembus membuat bulu badan gue jadi merinding. Gak tau kenapa kok malah merinding... Aneh-aneh aja gue ini.

  "Mereka? Siapa?" tanya gue
  "Kelompok yang menculik aku waktu kecil... Mereka menyerang rumah kediamanku lalu membunuh setiap keluargaku. Yui, teman baikku... Dia datang dan membantuku keluar dari rumah. Keluarganya Yui yang merupakan pihak Kepolisian, memalsukan kematianku untuk mencegah penyerangan di masa depan" jawab Airi
  "Ah, begitu ya" gue garuk-garuk kepala. "Lalu kacamata ini?"
  "Aku sampai sekarang masih belum bisa mengendalikan sepenuhnya mata ini. Ketika mata anehku akan keluar atau baru saja keluar lalu kembali ke normal, pandanganku menjadi kabur. Jika terlalu lama, aku bisa kehilangan kesadaran" jawab Airi

Gue menganggukan kepala. Airi kelihatan gelisah apakah gue bakal takut ke dia atau kagak.

  "Lho? Zano-san benar-benar tidak takut dekat denganku?" tanya Airi
  "Ha? Sudah gue bilang enggak tuh" jawab gue dengan polos
  "Bahkan Yui saja kadang-kadang takut denganku" Airi tersenyum. "Zano-san, mungkin mulai sekarang kita berdua harus menjaga jarak antara satu sama lain"

Gue kaget dengernya.

  "Ha? Kenapa?!"
  "Karena, aku tidak mau Zano-san terluka karena aku. Mata anehku ini, pernah hampir merenggut nyawa Yui dan keluarganya"
  "Bahahaha!" gue ketawa

Airi menatap gue dengan bingung... Ataukah karena tampang gue semakin jelek ketika ketawa...

  "Karena lu berbeda... Itu bukan berarti elu harus mengasingkan diri" kata gue
  "Eh?" Airi kaget bentar. "Tapi... Kalau kau terlalu dekat denganku maka mereka mungkin akan membunuh-"
  "Lalu kenapa?" tanya gue
  "Zano...san..."

Gue memakaikan Airi kacamatanya lalu gue berdiri.

  "Gue tidak peduli apa pendapat orang tentang Airi. Biarin orang mengatakan kalo Airi itu monster atau pembawa sial. Tapi bagi gue, Airi adalah orang yang berharga dalam kehidupan gue"
  "Tapi... Zano-san tidak takut kepadaku ataupun mere-"

Gue noleh ke Airi, dia menundukan kepalanya.

  "Tenang aja, gue berjanji. Gue akan melindungi Airi dan gue tidak akan membiarkan Airi merasa sendirian karena Airi adalah orang yang berharga dalam hidup gue" gue mengulurkan tangan. "Jadi jangan pernah Airi merasa kalau Airi sendirian di dunia ya?"
  "Zano-san.." Airi mengangkat kepalanya. "Arigatou"
  "Haha" gue senyum
  "Zano-san juga adalah orang yang berharga di dalam hidupku kok"

Air mata mulai membahasi pipi Airi. Ya elah, baru begini aja udah terharu... Yah... Sebenarnya gue sendiri terharu juga. Gue ngerti perasaanya Airi. Gue tau bagaimana rasanya diperlakukan berbeda.

Dulu waktu gue kecil, gue sering diledek anak yatim sama anak-anak yang seusia gue. Gue berusaha keras dan belajar cukup keras sampai mereka bisa mengakui keberadaan gue. Gue punya sesuatu yang tidak dimiliki mereka... Yaitu kemampuan atau skill gue dalam berbagai hal.

Itu karena gue lebih sering mempraktekan apa yang gue pelajari ketimbang cuma sekedar duduk, baca lalu lupa. Walaupun gue sendiri sering lupa sih apa yang gue pelajari tapi gue secara alami bisa langsung inget lagi.

Kembali ke topik karena gue gak mau curhat. Airi memegang tanganku, lalu dia berdiri. Gue liat ke langit. Udah hampir gelap. Zaki sempat bilang kalau nanti semuanya pake penginapan. Gue mengajak Airi untuk berjalan kembali ke bus.

  Tapi... Gue sadar... Airi ternyata senasib dengan gue. Kami berdua sama-sama kehilangan orang yang berarti dalam kehidupan. Satu-satunya hal berharga yang kami punya adalah teman.

Rombongan udah pada kumpul di bus.

  "Zan! Dari mana aja lu?" tanya Zaki
  "Yah... Gue jalan-jalan" jawab gue
  "Ooh... Sori, gua lupa kalian kan pacaran"

Gue baru inget... Gue lagi menggandeng tangannya Airi. Tapi gue cuek aja. Sebenarnya kami gak pacaran... Tapi gue heran kenapa seisi sekolah menganggap kami pacaran. Airi cuma senyum melihat gue.

  "Udah dari tadi ya?" tanya gue
  "Enggak, kita baru aja selesai di sini" jawab Zaki. "Selanjutnya, tujuan kita ke tempat penginapan"
  "Oke, gue ngerti" balas gue. "Tapi jalannya gue gak tau" gue nyengir
  "Kuda! Ya iyalah" keluh Zaki

Kami semua naik ke dalam bus. Gue menyalakan mesin dan memulai perjalanan. Airi meminta pada Zaki supaya dia yang menunjukan arah. Zaki sih ya setuju-setuju aja, noh dia itu walaupun tampangnya dan postur badannya heavy metal tapi hatinya heavy rotation terutama buat cewek. Dia lemah banget terhadap cewek.

****************

  Udah malem. Jalan udah mulai gelap. Gue khawaktir Airi bakal takut tapi kenyataanya enggak. Dia kelihatannya gak takut lagi.

  "Gak takut lagi ya Airi?" tanya gue sambil nyetir
  "Selama ada Zano-san, aku tidak takut" jawab Airi sambil senyum

Gue ketawa kecil-kecilan. Gak tau kenapa tapi gue seneng juga denger jawabannya yang barusan. Zaki sedang duduk di belakang memperhatikan Tetsu. Zaki takut penyakit jantungnya Tetsu kumat lagi. Gue yakin dia bakal baik-baik aja.

  "Sebentar lagi kita akan sampai" kata Airi

Bener apa yang dibilang Airi bener. Kita berhenti di parkiran sebuah villa. Wew... Hebat! Baru pertama kali gue ke villa. Zaki dan para guru lainnya membimbing para murid supaya berjalan dengan tertib masuk ke dalam.

Zaki bilang kalo mereka sudah pesan tempat buat gue dan supir yang lainnya juga. Keren! Tapi pertama-tama, kita semua makan bersama dulu di dalam villa. Ruang makannya besar banget dan rapi bro! Gue gak bisa membayangkan biaya buat sewa villa ini. Pasti mahal.

Para murid cenderung duduk dengan sesama murid. Para guru yang ikut, cenderung duduk dengan sesama guru. Para supir... Yah... Tau lah... Kita duduknya barengan dan kita gak ngomong sama sekali karena gak tau mau ngomong pake bahasa apa.

Airi? Dia malah duduk di sebelah gue. Berkat dia, gue bisa berkomunikasi dengan supir yang satunya lagi. Yah... Meskipun yang kita omongin bener-bener gak berguna. Misalnya, kenapa babi kalo jalan selalu nundukin kepalanya...

BRAK!!

  Seorang laki-laki memakai jaket hitam mendobrak masuk. Dia langsung menodongkan pistol. Perampokan ya? Ataukah ini bagian dari acara?

  "Mana yang namanya Zano?!" tanya laki-laki dengan kasar
  "Yo" gue berdiri sambil melambaikan tangan kanan gue
  "MATILAH KAU!" teriak laki-laki itu

DOR!

Besambung
***************

  Part selanjutnya, Zano ditembak (Tidak ada sangkut-pautnya dengan status Zano yang masih tidak punya pacar). Apa yang akan terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar