Sabtu, 21 Februari 2015

Zano & Kawanan : Terowongan Yami Part-4

  "Zano & Kawanan : Terowongan Yami" adalah salah satu episode dari cerita berseri "Zano & Kawanan" buatan Green Leaper.

Part sebelumnya, Airi ingin berbicara hanya empat mata dengan Zano. Sepertinya dia telah menemukan sesuatu tentang terowongan ini dan berpikir hanya Zano yang nekat untuk mengatasinya.

Happy reading! 


*************
Zano & Kawanan
Terowongan Yami
Part-4
Hell Break Loose

   Kami berdua duduk di tepi ruang sementara Juita memutuskan untuk meninggalkan kami berdua. Katanya sih dia kelupaan sesuatu di permukaan tanah. Dia mengedipkan matanya seolah-olah lagi ngasih kode ke gue, sialnya gue gagal memahami kodenya.

  "Sekarang hanya kita berdua di sini. Jadi, apa yang ingin elu ngomongin?" gue menyandarkan panah silang gue di sebelah gue
  "Apa Zano bisa merasakannya?" tanya Airi singkat
  "Apaan?"
  "Aku merasakan ada sesuatu yang... Tidak normal di sini"

Gue memperhatikan sekeliling gue. Segala sesuatu masih terlihat cukup normal buat gue... Kecuali Miranda yang terus menerus muncul dan menghilang tiba-tiba. Apa Airi udah bisa merasakan kehadirannya?

  "Ketika aku memakai kekuatan mataku, aku bisa membedakan antara manusia dan lingkungan sekitarnya bahkan makhluk tak kasat mata sekalupun. Tetapi, ketika aku memperhatikan beberapa tempat yang kosong, aku melihat sesuatu"
  "Hah?" gue garuk kepala
  "Bentuknya lingkaran tetapi seperti... Memiliki motif pusaran air di tengah-tengahnya. Ketika aku kembali lagi dengan mata biasa, aku tidak melihatnya sama sekali"

Gue cuma diem. Gue gak tau mau ngomong apa. Gue sama sekali gak ngerti apa yang diomonginnya barusan. Oke, gue tau dia melihat sesuatu, tapi gue sama sekali gak punya petunjuk apapun.

  "Kemudian, aku sempat membaca beberapa dokumen sebelum pandanganku benar-benar kabur. Contohnya ini, tapi bagian menariknya hilang"

Airi memberi gue selembar kertas catatan yang udah sobek setengah. Percuma, gue gak bisa bahasa Jepang. Jadi gue cuma bisa menaikan alis mata gue.

  "Di situ tertulis, penggalian ini telah merenggut nyawa banyak orang untuk sesuatu yang sebenarnya bahkan tidak berguna. Musuh sudah menguasai terowongan ini, harapan kami adalah mengurung mereka"
  "Entar, yang musuh itu siapa? Terus apa yang mereka gali?" gue garuk kepala
  "Aku tidak tahu. Bagian terpentingnya hilang"

Entah itu bisikannya Miranda ataukah para penjaga udah mulai gila.

  "Kemudian, aku juga menemukan proyek 555. Semacam proyek pembuatan pasukan super. Aku tidak memiliki data lebih banyak lagi. Bagian terpentingnya lagi-lagi hilang"

Pasukan super? Hmnh.... Gue yakin pasti sangat menyakitkan untuk Airi setelah dia mengetahui semua itu. Dia... Juga dulunya dijadikan eksperimen. Lalu, mungkin proyek 555 ini ada hubungannya dengan orang-orang yang tewas di dalam terowongan ini dan juga penampakan-penampakan misterius.

Apakah jaman perang dunia 2, Jepang memang mencoba membuat pasukan super? Gue rasa dalam kondisi perang, maka gak mustahil kalau mereka mencoba mengembangkan sesuatu yang bisa membalikan keadaan. Dan menurut gue, bukan hanya Jepang saja yang berbuat begitu.... Gue yakin tiap negara pasti melakukan hal yang sama.

  "Zano? Apa kau mendengarkanku?" tanya Airi yang membuat gue buyar dari lamunan
  "Ah... Iya... Bisa dibilang begitu"
  "Mouh..." Airi mengeluh. "Zano jahat"
  "Agh, b-b-bukan begitu! Gue cuma m-"

Gue menundukan kepala gue setelah Airi terlihat benar-benar ngambek.

  "Sori..." kata gue
  "Sudahlah tidak apa-apa... Zano, apa boleh Zano menemaniku ke ruang pengawas? Ada sesuatu yang tertinggal di sana" balas Airi. "Aku merasa lebih aman jika Zano bersamaku"
  "Ruang pengawas?"
  "Ruang yang banyak monitornya. Ada sesuatu milik aku yang mungkin ketinggalan di sana"

Gue menganggukan kepala. Kalau berjalan bersama gue membuatnya merasa tenang dan lebih aman, kenapa tidak? Lagian gue juga gak bisa ninggalin dia sendirian dengan kondisinya yang sekarang. Mungkin Yui lagi di permukaan tanah.

Kami berdua berjalan ke ruang monitor. Gue sendiri baru tahu kalau udah ada ruang monitor yang dipasang jauh banget di dalam. Banyak banget monitor yang udah terpasang dalam waktu singkat. Kebetulan ada seorang penjaga di dalam.

  "Ah, si jelek dan menara berjalan ya? Tidak ada yang menarik untuk diliput di sini menara berjalan" kata penjaga
  "Menara berjalan?" Airi kebingungan
  "Ahem... Maksudnya dia elu" bisik gue
  "Mohon maaf, dari dulu aku tidak bisa mengingat nama orang dengan baik. Jadi aku memberi julukan berdasarkan penampilan mereka"
  "Tidak apa-apa. Aku kemari untuk mengambil kembali sesuatu milik aku yang tertinggal" balas Airi sambil senyum
  "Sebuah catatan kan? Yang covernya berwarna merah muda? Ada di belakang"
  "Terimakasih!" kata Airi

Airi langsung pergi menghampiri sebuah meja di belakang dan mulai mencari buku catatannya. Gue melihat ke salah satu monitor. Kalian masih ingat ruang yang ada pintu besi raksasanya kan? Ternyata kakaknya Hiromi bersama sebuah tim sudah masuk ke ruang itu dan memasang kamera pengawas.

Gue melihat mereka sekarang berada di semacam ruang pembuatan senjata. Di dalamnya ada beberapa tabung besar yang isinya sama sekali gak kelihatan dan tertulis 555.

  "Ruang pengawas, tolong konfirmasi jika kamera kami online"

Penjaga ruangan ini langsung mengambil radio miliknya setelah mendengar suara dari radio yang ada di sini.

  "Ya tim Zulu 2, kamera pengawas online. Aku bisa melihat kalian dengan jelas. Aktifkan kamera helm kalian"

Penjaga ruang ini menggeser kursinya ke sebuah monitor yang ada di sebelahnya. Tak lama kemudian, kami mendapat video. Sepertinya live-video itu berasal dari kamera yang terpasang di helm salah satu anggota tim yang bersama kakaknya Hiromi.

Salah satu anggota tim tak sengaja mengaktifkan aliran listrik di sana. Gambar live-video yang tadinya gelap kini jadi terang.

  "Pengawas, kami mendapatkan beberapa hal yang abnormal di bawah sini. Apa ada sesuatu yang muncul di kamera?"
  "Negatif. Tidak ada apa-apa"

 BLEDAR!!!

  Suara ledakan itu membuat telinga gue sakit. Suara ledakan itu disusul gempa. Terowongan sialan ini mulai berguncang. Gue dan Airi sampai jatuh ke tanah

Gue, Airi dan penjaga yang entah namanya siapa ini bisa merasakan semacam gelombang yang sangat kuat di udara. Dalam sekejap, lampu di sekeliling mulai mati-menyala seperti kita sedang syuting film horror. Bahkan ada beberapa lampu yang meledak. Beruntung gak ada dari kita yang terluka.

  "Ledakan apa itu?"
  "Delta 2 di sini... Kami menemukan sesuatu"

Beberapa monitor kehilangan gambar seolah-olah kameranya udah dirusaki oleh sesuatu. Apa ini gelombang elektromagnetik? Entahlah, yang gue tau, situasinya gak bagus karena di kamera pengawas yang ada di satu-satunya pintu masuk terowongan-permukaan tanah ini menunjukan kalau pintu masuknya tertutup tanah.

Gak lama kemudian, di kamera-kamera pengawas, terlihat banyak banget pasukan berpakaian era perang dunia 2 berlarian memenuhi segala sisi.

  "Demi saus tomat! Apa itu?! ARGH!!1 *bzzzz*"
  "Mereka bukan kawan, tembak mereka!*
  "Pengawas pada seluruh tim penjaga! Kita baru saja diserang oleh segerombolan musuh yang tidak dikenal. Segera berkumpul di ruang pusat operasi dan selamatkan siapa saja yang bisa kalian selamatkan sepanjang jalan!" kata penjaga
  "Tim Delta 2 di *bzzz* sini, Kita... *dor* Roni! Tahan pintu itu! *bong* Tahan pintu itu! *bruak, bledar, bzzzz*..."

Penjaga yang dijuluki pengawas ini melihat ke salah satu monitor. Terlihat ada semacam pasukan yang memakai atribut pasukan perang dunia 2 mendobrak pintu. Itu bukan atribut pasukan Jepang... Lebih ke arah Australia.

  "*bzzz* Harimau 4 melapor pada *brshtttt... bzzz* pengawas! Kita diserang *bzzz* oleh pa *bzzz* ukan aneh di sini. Banyak sekali korban berjatuhan. Ugh, matilah kalian makhluk jelek! *dor, drrrr*. Yuli! Dimana kau?! Sial!"

Lagipula ada yang aneh. Pasukan Australia itu terlihat seperti sudah jadi mayat berjalan tapi mayat berjalan yang cepat dan cukup kuat untuk merubuhkan pintu besi. Kadang-kadang gue juga melihat logo-logo yang dijelaskan Airi berada di tembok-tembok terowongan.

  "U45 di sini, seseorang tolong kirimkan bantuan ke lokasi kami! Kami diserang semacam... Entah, pasukan perang dunia 2? Untuk sekarang kami berlindung di *bzzzzz*"
  "Bentuk barisan! Jangan biarkan mereka *kraaaah* mendekati para kutu buku!"
  "Mundur! *dor, ratatatata, kraaaah* Semuanya mundur sekarang!"

  Channel radio udah mulai ramai dengan suara teriakan, kesakitan, tembakan, ledakan dan suara berisik lainnya. Airi udah mulai kebingungan dan kayaknya ketakutan.

  "*Kroarrr* Awas di belakang! *Krak, brak* ARGH!!!! *bzzzz*"
  "Kelalawar 1 pada pengawas! Seluruh seksi terowongan telah dipenuhi mereka! *Krak* Ferdi! *Jleb, Raarhs* Ugh... *Bzzzz*"

Beberapa menit berlalu. Suara dari channel radio mulai berkurang hingga tidak terdengar apapun sama sekali. Satu per satu monitor mulai kehilangan gambar hingga kita bertiga di sini benar-benar gak punya apa-apa lagi.

  "Di sini pengawas, apa ada yang bisa mendengarku?"

Dan tidak ada jawaban. Sial, gue khawaktir tentang kakaknya Hiromi. Gue dah janji sama Hiromi untuk membawa pulang kakaknya hidup-hidup... Dan gue akan menepatinya walaupun itu berarti gue harus mati di sini.

Airi berjalan ke arah pintu sementara penjaga yang gue masih belum tau siapa namanya ini terus-menerus mencoba menghubungi orang-orang di radio. Gue dan dia yakin, pasti ada yang selamat dari apa yang terjadi.

  "Ano... Itu siapa?" tanya Airi

Gue berjalan ke belakangnya Airi. Di pintu kan ada jendela, gue melihat lewat jendela itu. Ada sesosok orang dari kejauhan tapi gak kelihatan jelas siapa.

  "Airi, pindah dari pintu. Biar gue yang periksa" kata gue

  Airi berdiri di tembok di samping pintu. Gue mengambil senter, membuka pintu. Gue memegang busur silang gue dengan tangan kanan gue dan mengacungkannya ke sosok yang masih gak kelihatan jelas itu. Waktu gue arahin senter ke dia, gue melihat tentara beratribut perang dunia 2.

Sebagian besar kulitnya udah terkupas jadi gue bisa melihat dagingnya. Malah ada beberapa bagian tubuhnya yang udah gak ada dagingnya dan organ-organ dalamnya bisa terlihat. Juga ada beberapa cacing menggeliat-geliat di tubuh orang itu. Busuk bener baunya coy. Benar-benar sebuah pemandangan yang gak enak untuk dilihat. Kalau kamera pengawas bekerja, gue pengen segera lambaikan tangan ke kamera.

Pakaian orang itu juga udah robek-robek. Di beberapa tubuh orang itu ada bekas tembakan, sabetan dari benda tajam, luka bakar, dan lain-lain. Mata kirinya udah hilang entah kemana dan mata kanannya menggantung seperti mau lepas tapi gak bisa lepas.

  "KRAAAAAHHH!" teriaknya dengan suara seperti monster

Jelas-jelas... Orang ini gak hidup tapi entah kenapa bisa bergerak dan mengacungkan senapan tipe 99 ke muka gue. Gue langsung menjatuhkan senter gue dan memegang busur silang gue dengan kedua tangan gue. Dengan cepet gue memperkirakan dimana letak kepala orang tadi itu dan menarik pelatuk.

JLEB!

  "KRAAAH!!!"

Gue mengambil senter yang tadi gue jatuhkan dan melihat-lihat sekeliling gue. Tembakan gue tadi mengenai kepala orang itu. Ugh... Menjijikan... Gue berlari kembali ke dalam, mengunci pintu, dan mempersiapkan panah selanjutnya.

  "Tadi itu manusia kan?" tanya penjaga ruang
  "Mana gue tau?! Yang gue tau, pasti masih banyak lagi yang begitu yang berkeliaran di sini dan yang kayak begituanlah yang udah nyerang semua orang" jawab gue

Suasana ruang menjadi hening. Terjadi guncangan sekali lagi dan lampu sempat mati-menyala. Kita bertiga benar-benar gak tau apa-apa dan bingung. Airi udah mulai nangis, penjaga ini udah mulai panik dan gue bingung mau ngapain sekarang.

  "Halo? Apa ada yang masih hidup?"

Mendengar suara radio itu, kami bertiga berlari ke radio.

  "Ya! Ya! Masih ada yang hidup! Siapa ini?" balas gue
  "Syukurlah. Gigi di sini, aku bersama dengan Satoru dan beberapa penjaga yang masih hidup. Tunggu... Apa ini suaranya Zano?"
  "Yoi, ini gue. Gue bersama Airi dan penjaga yang dari tadi disebut pengawas" balas gue
  "Oh, Mark. Beri radionya ke dia Zan"

Gue memberi radionya ke penjaga ini. Rupanya namanya Mark toh? Namanya luar negri banget.. Tapi logatnya logat orang Batak. Mark berbicara dengan Gigi lewat radio sementara gue mencoba menenangkan Airi yang kayaknya frustasi atau mungkin trauma.

  "Hei, hei kalau mau pacaran jangan sekarang..." keluh Mark
  "Gue gak pacaran..." keluh gue
  "Ah iya, makhluk astral tak berwajah, tadi Gigi mengatakan bahwa Satoru dan beberapa anggota tim ekspedisinya mendapatkan petunjuk tentang jalan keluar dari sini tetapi mereka perlu beberapa orang tambahan lagi. Pergilah ke sana dan bantu dia"

Gue menanggukan kepala gue.

  "Airi, gue pergi dulu ya"
  "Aku ikut!" kata Airi
  "Lha?" gue kaget
  "Dulu waktu aku kecil, keluarga angkatku dibunuh dan aku tidak bisa melakukan apa-apa... Jadi sekarang, selama aku masih bisa membantu orang lain, akan kubantu dengan seluruh kemampuanku!"

Gue diem. Nih anak... Gue menoleh ke Mark. Mark cuma senyum sambil melemparkan pistol dan beberapa amunisi ke Airi. Gila! Gue noleh ke Mark bukan karena gue minta dia untuk ngasih Airi senjata. Pertama, gue gak tau apa Airi bisa nembak. Kedua, kalaupun bisa, gue gak yakin apa Airi bisa menembak kena target apa kagak!

  "Tenang saja, aku belajar menembak dari ayahnya Yui yang anggota polisi" kata Airi
  "Haah... Kalau begitu gue percayakan senjata itu sama elu. Mark, elu ikut kan?" tanya gue
  "Tidak. Aku akan tetap di sini. Aku akan mencoba menghidupkan kembali kamera-kamera dari sini dan aku akan menghubungi tim lain. Mungkin saja ada yang selamat. Jika memungkinkan, aku akan mencoba menghubungi permukaan yang tampaknya terputus dari kita"

Okelah... Terserah dia. Gue harap moga-moga yang terjadi di bawah sini gak terjadi di permukaan tanah. Meskipun ada Juita, gak ada jaminan kalau dia bisa melawan apapun yang menyerang kita di bawah sini.

  "Ah, sebelum kalian pergi... Ini"

Mark melemparkan sebuah alat elektronik. Mirip iPad sebesar tangan.

  "Alat itu punya peta dari area yang telah kita jelajahi dan terhubung ke jaringan yang baru kita pasang. Jadi jika kalian tersesat dan tidak tahu harus kemana, aku akan meletakan koordinat lokasi kalian dan tempat yang harus kalian pergi"
  "Kenapa alat ginian gak dibagi duluan sebelum kekacauan ini terjadi?" keluh gue
  "Harga pembuatannya mahal dan kita hanya punya sedikit saja. Selamat berjuang kawan-kawan!"

Pfft... Pantesan. Gue dan Airi berjalan keluar dari pintu menelusuri jalan yang sempit dan gelap. Logo-logo yang dibilang Airi udah muncul di tembok dan gue udah mulai melihat bayangan-bayangan yang kira-kira masa lalu terowongan ini dan mendengar bisikan-bisikan lain selain bisikan Miranda.

Darah manusia terlihat dimana-mana. Mayat dari tim ekspedisi tergeletak di seluruh tempat yang kami lewati. Kami berdua bisa mendengar suara-suara seperti monster. Mereka tau kita berdua ada di sini.

Dengan satu-satunya jalan keluar yang kita tau udah terutup, tidak ada istilah "berputar balik dan bersembunyi". Kalau bersembunyi, cuma tinggal masalah waktu sampai kita mati karena ditemukan sama makhluk-makhluk itu atau mati kelaparan. Satu-satunya kesempatan kita buat bertahan hidup adalah untuk pergi menemui Satoru beserta timnya dan berharap mereka bisa mendapat jalan keluar.

Bersambung
**************


Tidak ada komentar:

Posting Komentar