Minggu, 05 Mei 2013

Zano & Kawanan : Stella Hilang Part-1

Zano & Kawanan
Stella Hilang!
Part 1 

  Gue dari tadi hanya duduk memperhatikan Anton dan Sesil yang sedang bermain catur. Sudah berkali-kali Anton dikalahkan Sesil dalam permainan ini. Gue sendiri kurang mengerti catur jadi gue hanya berperan sebagai penonton.


Tuk! Tuk! Tuk!

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Dari luar, terdengar Andi berteriak nama gue. Nih anak kenapa ya? Malem-malem datang ke rumah gue terus teriak-teriak. Apa dia mau main catur? Gue membuka pintu. Gue melihat Andi bercucuran keringat (plus air mata), napasnya terputus-putus seperti habis marathon dari Sabang sampai Merauke tanpa istirahat.

  "Andi? Lu kenapa Bro? Mau main catur sama Sesil dan Anton ya?" kata gue
  "Kam-pret! Ja-ngan ber-can-da" jawab Andi ngos-ngosan
  "Gue gak bercanda!" kata gue serius (Memang gue serius dari tadi)
  "Bro... Stella!"
  "Oh, Stella mau datang main catur? Boleh banget tuh Bro!" gue langsung senang tiba-tiba
  "Bu-"
  "Ayo, masuk dulu Bro!" gue menarik Andi masuk
  "STELLA HILANG!" Andi berteriak
  "APA?!" gue syok berat
  "APA?!" Anton dan Sesil langsung berhenti bermain catur lalu kompak, menoleh ke Andi.

Suasana menjadi hening. Gue langsung keringat dingin. Tiba-tiba Andi terlihat sangat lemas. Gue membantu dia untuk duduk. Sesil berlari ke dalam lalu kembali membawa segelas air putih untuk Andi. Dengan lemas, Andi minum. Kami sengaja membiarkan Andi tenang dulu lalu kami mulai bertanya.

  "Bro, elu udah lapor ke polisi?" kata Anton
  "Udah... Tapi gue gak bisa tenang!" jawab Andi
  "Di, emangnya udah berapa Stella hilang?" tanya gue
  "3 hari"
  "3 hari? Pantasan aja Sesil enggak lihat Kak Stella" gumam Sesil

Gue ingin mencari Stella. Bukan hanya karena persahabatan yang sudah lama kami jalin, gue juga sayang sama dia. Gue menghela napas.

  "Ya udah... Gue bakal mencari Stella" kata gue
  "Makasih Bro" balas Andi
  "Gue bakal melakukan apa aja demi dia" kata gue
  "Ahem... Cinta..." bisik Anton ke Andi
  "Gue dengar lu Ton!" kata gue.
  "Zan, gue pengen nyari bareng lu aja" Andi berdiri dari tempat duduk
  "Lu kuat gak? Gue takut bentar lu pingsan"
  "Zan, ini untuk adik gue!" Andi mulai terlihat kuat lagi
  "Ya udah... Ton, lu lanjut main catur aja sama Sesil. Siapa tau tiba-tiba Stella balik ke sini" kata gue
  "Kakak hati-hati ya!" kata Sesil
  "Hati-hati Di, Zan! Jangan sampai kalian nyasar!" kata Anton
  "Yoha" balas gue

Gue menatap Andi. Dia menganggukan kepalanya. Lalu kami berjalan keluar rumah untuk mencari Stella. Sebenarnya ada apa ini?!

******

  "Di, kalau gue boleh tau... Terakhir kali Stella pergi ke mana?"
  "Katanya sih, ke tempat ciuman pertama buat dia"

Itulah percakapan singkat antara gue dan Andi. Kami berdua sudah berjam-jam mencari Stella. Di rumah teman-temanya di kota, dia tidak ada. Keliling kampung 5 kali, tidak ketemu.

  "Tempat yang paling ciuman pertama?" gue berpikir sejenak
  "Bro, elu kan orang yang paling dekat sama dia. Lu tau enggak tempat ciuman pertama dia?"

  Gue berpikir keras. Tempat yang paling berarti untuk Stella... Hm...

  "Tapi jujur, gue curiga kalau adik gue itu suka sama elu" kata Andi. "Tiap malam, dia selalu aja ngomongin elu. Dia juga ngomongin kalau dia sayang sama elu. Anton pernah bilang ke gue kalau elu pernah dicium sama tuh anak. Itu bener ya? Gue gak percaya sama Anton soalnya dia sering ngerjain gue"
  "ITU DIA!" gue langsung teringat sesuatu.
  "Jadi bener elu pernah dicium adik gue?"
  "Andi, lu inget kan waktu Sesil diculik setan?"
  "Iye gue inget"
  "Setelah kasus yang itu selesai, gue dan Stella duduk di sungai!"
  "Terus lu dicium di situ?"
  "Emang sih... Tapi gue gak ngerti kenapa tuh anak nyium gue"

Tiba-tiba kepala gue ditimpuk

  "Bego lu! Dia lagi menyatakan perasaanya ke elu!" kata Andi
  "Tapi gue enggak ngerti..."
  "Jiah.. Lu sebenarnya bego atau polos sih?"
  "Gak tau" jawab gue
  "Pfft... Ya udah. Lu tunjukin jalan nya! Cepat!"

Dengan cepat, gue dan Andi berjalan ke sungai dekat kampung. Awalnya kami mengira Stella ada di situ, tapi ternyata dia tidak ada di situ.

  "Stella!" Andi berteriak-teriak. Sudah mirip dengan Tarzan.
  "Gak ada..." Gue melihat sekeliling. Kosong men. Cuma pepohonan doang. Gue melihat ke arah tempat di mana gue dicium Stella. Di situ ada sebuah sapu tangan (bukan sapu ijuk). "Eh, Bro, Itu... sapu tangan punya adik lu kan?" gue menunjuk ke sapu tangan itu.
  "Mana?" Andi melihat ke sapu tangan itu. "Iye! Itu punya dia!"

  Tanpa berpikir panjang, Andi berlari untuk mengambil sapu tangan itu. Ketika dia akan mengambil sapu tangan itu, sebuah tali langsung mengikat kakinya. Sial, jebakan! Tali itu sukses membuat Andi tergantung di pohon. Gue bersyukur karena yang terikat itu kakinya bukan lehernya.

  "Wooy!! Bantuin gue!"
  "Gue dateng!" Gue berlari menghampiri Andi

Ketiga gue akan melepas Andi dari jebakan tali itu, Screamer muncul dari belakang pepohonan sambil memegang panah. Penampulanya? Masih sama dengan yang dulu... Seluruh tubuhnya masih ditutupi seragam buatanya sendiri.

  "Zano? Andi?"
  "Screamer?! Ini semua kerjaan lu?!" kata gue
  "Maaf, Zan! Kupikir kalian berdua adalah orang mencurigakan."
  "Woy, gue gimana?!" keluh Andi yang masih tergantung di pohon
  "Ah! Sori Bro!" kata gue

Ketika gue akan melepaskan simpul tali, tiba-tiba sebuah anak panah melesat memotong tali itu putus. Gue langsung kena serangan jantung sementara. Bagaimana tidak? Anak panah itu tepat melewati depan muka gue. Andi yang sudah lepas dari jebakan, jatuh ke tanah... tentu saja, kepalanya yang mendarat duluan.

  "Aduh!" Andi mengelus-ngelus kepalanya.
  "SCREAMER! Lu mau bunuh gue ya?!" gue sedikit kesal
  "Caramu memakan waktu lama..." Screamer berjalan mengambil anak panah yang tadi

Andi berdiri tapi sambil mengelus kepalanya.

  "Tadi lu bilang apa? Orang mencurigakan?" kata Andi
  "Iya, 3 hari belakangan ini banyak orang-orang mencurigakan mulai lewat sini. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau mereka akan memasuki kampung" kata Screamer
  "STELLA! TIDAK!" Andik mulai panik...lagi
  "Woy, Mer! Lu tau gak kalau Stella lagi ilang?" kata gue sambil mencoba menenangkan Andi
  "Tau..."

Screamer mengambil sapu tangan milik Stella lalu memberinya pada Andi.

  "Dari pengamatan saya terhadap orang-orang mencurigakan yang lewat, mereka semua berasal dari gembong yang sama" kata Screamer
  "Lu tau dari mana kalau mereka itu tergabung dalam sebuah gembong?" gue bingung
  "Elu pasti lupa kalau hal-hal kayak gitu adalah bidangnya Screamer" kata Andi dengan lemas
  "Zano.." Screamer menepuk kepala gue. "Kalau kau sudah pernah merasakan sisi gelap dari dunia ini... Kau akan tau"
  "Eh?" Gue hanya mangap... Gue bingung. Andi juga terlihat kebingungan. Tapi kok mukanya jadi jelek ya?
  "Lihat ini" Screamer menunjuk pada rumput. "Di sini ada jejak sepatunya Stella. Aku sudah menelusuri jejak ini"
  "Hasilnya?" tanya Andi penasaran
  "Sepertinya dia pergi ke semacam gedung besar yang ditengah-tengah kampung di ujung sana... Sebelah hutan" Screamer menunjuk ke arah hutan
  "Aha! Bagus! Tapi kenapa lu gak selamatin dia?" tanya gue
  "Zano, yang kulihat hanya jejak bukan orangnya... Lagipula, ada sedikit urusan pribadi yang harus diselesaikan di sini. Kalau kalian mau pergi, pergi saja duluan. Nanti aku susul."
  "Kampret..." keluh Andi. "Gak ada salahnya kalau kita coba cari dia di sana"
  "Hm, mari kita lakukan Bro!" Gue menganggukan kepala

Gue dan Andi segera pergi ke arah yang ditunjukan Screamer.

  "Selamat berjuang Gents" kata Screamer sambil berjalan ke pepohonan.

 Bersambung
*******

Episode selanjutnya? Apakah Zano dan Andi bisa menemukan Stella? Apakah Zano akan mengerti catur? (Oke, yang itu hanya intermezzo)

Part 2 sudah selesai! Bisa dibaca DI SINI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar