Jumat, 26 April 2013

[Parodi] Resident Vevil 4 : Afterlife


Hehehehe... Sobat Readers!

  Leaper kembali lagi. Gue kali ini membawa parodi Resident Vevil 4. Gue enggak akan berlama-lama lagi berbicara karena gue sendiri tidak tau mau berbicara apa dan gue yakin Sobat Readers sudah tidak sabar untuk membaca.

Jika Sobat Readers belum membaca seri parodi sebelumnya, gue berbaik hati menaruh linknya di postingan ini.

Resident Vevil 1
Resident Vevil 2 : Apocalypse
Resident Vevil 3 : Extinction

Oke, Happy Hunting! Erm... maksud gue, happy reading!


******

Resident Vevil 4 : Afterlife

 


 Suatu hari di salah satu jalanan kota Tokyo yang sepi dan dipenuhi zombie...

DOR!

Sebuah peluru melesat menembus kepala zombie. Bukan, itu bukan faktor ketidaksengajaan dari Rica. Itu adalah ulah dari 2 sniper Umbrella tersembunyi di atap gedung yang terpisah. Mereka berdua sedang sangat galau dan bosan.

Sniper #1 : Gue dapet 1

Sniper #2 : *melihat lewat scope* Heh, baru unggul 1 poin aja udah bangga lu.

Sniper #1 : Inget skor kita selama seminggu Bro

Sniper #2 : Iye, Elu udah 1 gue masih 0.

Sniper #1 : Ngomong-ngomong, elu tanda tangan absen pemain parodi ini enggak?

Sniper #2 : Tanda tangan? Bukanya nama kita berdua enggak ada di daftar pemain?

Sniper #1 : *gemetaran* Elu tau kan, itu artinya apaan?

Sniper #2 : *Menelan ludah dan kelereng* Iya, kita bakal mati

Beberapa menit kemudian, mereka berdua mati...

Narrator #1 : Oke, gue rasa untuk takaran "intro" yang tidak jelas asal-usulnya, begitu saja sudah cukup.

Narrator #2 : Cukup panjang?

Narrator #1 : Cukup hancur... Leaper bukan tipe orang yang ahli membuat intro yang keren dan jelas asal-usulnya.

Narrator #2 : Betul juga... Ya udah. Kita lanjutin aja ceritanya

Di sebuah fasilitas rahasia bawah tanah milik Umbrella. Pasukan Umbrella mendeteksi adanya penyusup yang berhasil nyunsep ke dalam fasilitas. Tanpa ragu-ragu, seluruh akses dari permukaan ditutup pakai tumpukan tomat hasil sitaan Satpol PP ketika menggeledah sarang Tomcat.

Seluruh pasukan Umbrella bersenjata lengkap dikerahkan ke sebuah pintu yang terbuat dari lemper. Mereka dengan penuh rasa takut mengacungkan senjata ke pintu itu.

BRUAK!

  Ve dan pasukan kloning nya menerobos masuk. Terjadi aksi bakutembak yang menegangkan (bagi pemeran pasukan Umbrella, toh, di naskah mereka semua babak belur). Seluruh pasukan dengan gampang dihabisi oleh Ve dan pasukan kloning.

Tokoh Antagonis : Kenapa pasukan elit gue bisa dikalahkan dengan gampang sama dia?!

Narrator #1 : Karena para pemeran nya hanya TKN

Tokoh Antagonis : TKN?

Narrator #1 : Tenaga Kerja Nyasar

Narrator #2 : Woy, ini lagi adengan action. Elu mau dihajar sama Ve?

Narrator #1 : Enggak mungkin gue bisa kena pukulan nyasar Bro!

Terjadi sebuah pertarungan (lagi). Kali ini Ve dan pasukan kloning mengeroyok Tokoh Antagonis. Tokoh Antagonis ternyata mempunyai kekuatan super. Dengan gampang dia berhasil mengalahkan pasukan kloning milik Ve tapi dia (Tokoh Antagonis) menjadi korban kejagoan Ve. Tanpa sengaja, Narrator #1 juga ikut-ikutan menjadi korban kejagoan Ve.

Terpaksa, dia kabur dengan sebuah pesawat. Setelah berhasil kabur dari fasilitas rahasia, dia menghancurkan fasilitas rahasia itu dengan sebuah bom tersembunyi. Tanpa disadarinya, ternyata Ve berhasil menyusup ke dalam pesawat.

Tokoh Antagonis : Jiah.. Dia slamet

Ve : Sori, nama gue Ve bukan slamet

Ketika akan menyerang, Ve secara tidak sengaja tersandung kulit pisang. Alhasil, kekuatan supernya hilang.

Tokoh Antagonis : Sudah gue duga! Elu jadi jago gara-gara kesandung kulit pisang maka elu enggak jago lagi kalau elu kesandung kulit pisang!

Ve : Bentar... Lu nyadar sesuatu enggak?

Tokoh Antagonis : Apaan?

Ve : Di dalam pesawat ini cuma ada elu dan gue. Kalau kita di sini, terus siapa yang jadi pilotnya?!

Tokoh Antagonis : *Diam sebentar, langsung panik* Kenapa gak bilang dari tadi?!

Ketika Tokoh Antagonis berlari ke kursi pilot, pesawat yang ditumpangi mereka menabrak gerobak cabe milik om Kodir di sebuah gunung. Pesawat tersebut meledak. Entah bagaimana caranya, Ve selamat dari ledakan pesawat itu.

Beberapa bulan kemudian di sebuah tempat syuting yang dibuat mirip Alaska...

  Ve mengembara seorang diri mengelilingi Alaska. Mencari sebuah tempat yang bernama Aittakata "Arcaida". Bermodalkan sebuah pesawat sederhana yang memakai baling-baling bambu runcing, Ve menjelajahi Alaska. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah pulau kecil yang dipenuhi banyak pesawat, helikopter dan gerobak-gerobak jualan yang tampaknya tidak ada pemiliknya.

Ve turun dari pesawatnya. Dengan hati-hati dia menyelidiki pesawat-pesawat dan helikopter yang ada. Tiba-tiba dia berhenti di depan sebuah helikopter yang penuh dengan sayur-mayur.

Ve : Lho?! Ini kan helikopter yang dinaiki oleh Twelve dan yang lain! Kok bisa penuh sama sayur ya?

Narrator #1 : Kerjaan Leaper noh. Dia lupa mindahin sayur-sayuranya tadi sebelum syuting.

Ve : Ngomongin tentang Leaper... Tuh anak ke mana sih? Kok dari tadi batang hidungnya gak kelihatan?

Narrator #2 : Dia lagi sibuk

Ve : Sibuk apa?

Narrator #1 : Sibuk nyari tiket buat nonton teater JKT48. Katanya dia lagi pengen dengerin lagu-lagu Mansyur S di theater JKT48.

Ve : Tapi... di theater kita mana ada lagu-lagu Mansyur S. ?

Narrator #2 : Itu dia yang gue lagi pikirkan...

  Ketika asik-asiknya meet-n-greet ngobrol dengan para Narrator yang seharusnya tidak berbicara di segmen ini. Tiba-tiba ada yang lewat di belakang Ve. Ve menoleh ke belakang. Dengan hati-hati dia berjalan menyelidiki.

Ve : Gue sedikit khawaktir. Soalnya kekuatan super gue sudah hilang.

Tiba-tiba ada yang menyerang dari belakang. Ve dengan gesit menghindari serangan itu. Betapa terkejutnya Ve, ternyata yang menyerang adalah Shania.

Ve : Shania! Lama gak ketemu!

Shania bukanya malah menyapa. Dia malah menyerang Ve. Sekali lagi Ve menghindari serangan. Ve semakin heran kenapa Shania menyerangnya. Ve memperhatikan Shania secara teliti. Tidak ada yang mencurigakan kecuali sebuah alat di kepala Shania yang berbentuk laba-laba dan memiliki logo Umbrella.

Shania sekali lagi mencoba menyerang. Seranganya ditangkis oleh Ve lalu dia (Ve) mencabut alat laba-laba yang ada di kepala Shania. Sukses mencabut, Shania langsung jatuh pingsan. Untung Ve berhasil menangkap Shania sebelum kepalanya mendarat di tanah.

Ve : Shania! Dia kenapa?

Narrator #1 : Kalo gue jawab, bentar ceritanya jadi gak menarik lagi. Udah, lu ikutin aja naskahnya sono.

  Beberapa menit kemudian, Shania siuman (bukan siluman). Dari tampangnya, kayaknya dia baru habis makan martabak dekat Pancoran lalu terkena amnesia. Beruntung, efek amnesia ini hanyalah akting dan hanya bisa dilakukan oleh orang professional saja.

Shania : *Kebingungan* Lu siapa? Gue kenapa?

Ve : Baca aja yang di atas lah... pasti lu dapet jawabanya

Narrator #1 : Hey! Bagian itu gak boleh dibaca sama pemain!

Ve : Sori...

Shania : ????

Ve : Shan, lu inget sesuatu enggak? Apa aja yang penting lu inget

Shania : Cuma nama doang..

Ve : Lu inget gue enggak?

Shania : Ya iyalah Ve! Masa gue lupa sama...

Narrator #2 : Hush, baca naskah! Di sini tertera lu harus maju ke depan lalu putar 90 derajat ke kanan, maju ke depan, putar lagi 90 derajat ke kanan.

Narrator #1, Shania, Ve : HAH?! Woy, naskah apaan tuh?!

Narrator #2 : *membaca naskah yang dipegangnya* Oh, sori.. Ini naskah gue buat drama musikal layar amblas.

Narrator #1 : Pffftttt..... Berarti gue yang harus baca lanjutan parodi ini ya? *menghela napas*

  Terjadi sebuah interaksi antara Ve dan Shania. Ve memutuskan untuk membawa Shania dalam pencarianya. Shania yang masih tidak ingat apa-apa hanya mengikuti Ve untuk mencari Arcaida. Mereka berdua naik pesawat yang dimiliki Ve (yang ada baling-baling bambu runcingnya) lalu terbang melintasi sebuah kota yang sudah dipenuhi zombie-zombie kelaparan.

Ketika sementara melintasi kota, Ve melihat ada segerombolan orang yang selamat sedang bersembunyi di sebuah gedung. Mereka meledakan kompor gas untuk memberi signal pada Ve.

Shania : Apaan tuh?

Ve : Ada yang selamat, kita harus mendarat. Siapa tau aja mereka mengetahui lokasi Arcaida.

Shania : Mau mendarat di mana? Jalanan sudah penuh dengan zombie. Lu enggak berpikir buat mendarat di atas gedung kan?.

Ve : Enggak ada salahnya kalau mencoba!

Shania : *Syok*

Sementara itu, di atap gedung...

Ezi : Oke, gue udah memberi sinyal! Mustahil tuh pilot enggak melihat kompor meleduk!

Dhike : Tapi pesawatnya mau mendarat di mana? Enggak mungkin dia mendarat di atap gedung! Di jalanan apa lagi?!

Sendy : Improvisasi...

Odang : *melihat pesawat yang dipiloti Ve semakin dekat* TIARAP!

  Semua orang serentak tiarap. Mirip dengan cacing yang mengkuti wajib militer. Pesawat yang dipiloti Ve HAMPIR mendarat. Ve terpaksa melakukan satu putaran lagi.

Odang : Gila tuh pilot pesawat baling-baling bambu runcing itu!

Sendy : Tadi dia mau mendarat ya?

Ezi : BERSIHKAN AREA UNTUK PENDARATAN!

Sendy, Dhike, Odang : *menatap Ezi kebingungan*

Ezi : SEKARANG!

Dengan terpaksa cepat, mereka berempat membersihkan atap gedung. Tepat ketika mereka selesai membersihkan atap gedung, pesawat yang dipiloti Ve mendarat secara kasar. Hampir jatuh ke jalanan. Ve dan Shania keluar dari kokpit pesawat.

Ve : Itu tadi pendaratan terkasar yang pernah gue alami. Shan, lu enggak apa-apa kan?

Shania : Jangan ulangi lagi Ve.... Jantung gue berdetak terlalu kencang...

Sendy & Dhike : Shania, Ve!

Ve & Shania : Sendy, Dhike!

Ve, Shania, Sendy dan Dhike saling berpelukan... Tidak mengherankan. Mungkin bagi Ezi dan Odang mereka berempat mirip teletubies... hanya saja ada keterlibatan hal-hal yang berbau zombie.

Odang : Oke, cukup adengan kekeluargaanya. Jadi, lu datang buat menyelamatkan kita-kita ini?

Ve : Sori... Gue cuma pengembara...

Odang : Apes.... Apakah hari ini gak bisa jadi lebih buruk lagi?!

Narrator #2 : *menimpuk muka Odang memakai panci*

Dhike : Sori, dia lagi galau gara-gara gak pernah menerima kabar bagus.

Ve : Gak apa-apa, gue ngerti kok.

Ezi : Yah, dia namanya Odang. Pendiri Gembel TV.  Kenalin, nama gue Ezi! Itu tadi pendaratan yang keren.

Ve : Ve, senang bertemu denganmu Ezi *turun dari pesawat* Makasih atas pujianya.

Ezi : *menoleh ke Shania* Hai! Nama gue Ezi!

Shania : *cuek karena efek amnesia*

Ezi : *Nangis karena dikacangin*

  Setelah beberapa menit mereka berkenalan. Ezi menjelaskan bahwa mereka sudah berhari-hari meledakan kompor gas untuk memberi sinyal ke Arcaida.

Ve : Hm, mana bisa orang-orang Arcaida mendengar sinyal kalian dari Alaska?

Ezi : Alaska? Hello? Arcaida itu kapal yang disana noh!

Ezi menunjuk ke sebuah kapal besar yang mengapung di tengah-tengah laut. Sekilas, Ve mengira kapal itu terbuat dari gabus karena ada kabut tebal yang menghalangi pemandangan. Kebetulan Shania ada di sebelah Ve.

Ve : Shan, ternyata Arcaida itu kapal...

Shania : Trus gue harus bilang wow gitu? Gue udah tau kok Ve

Ve : Efek amnesia udah hilang ya?

Shania : Belum sepenuhnya sih...

Ezi : Ini siaran terakhir yang gue dengar dari mereka sekitar 3 hari yang lalu... *menekan tombol play pada radio*

Radio : Di sini Arcaida! Datanglah ke kami! Kami mempunyai makanan, minuman, tempat untuk tidur, dan yang paling penting, tidak ada zombie disini! Kami juga punya counter pulsa, konser dangdut, dan restoran cepat saji!

Ve : Itu... Kapal atau Planet Senen?

Ezi : Promosi mamen! Lalu, beberapa jam kemudian mereka melakukan broadcast terakhir... *menekan tombol play*

Radio : Di sini Arcaida! Kami... BZZZZ.... Mohon maaf, pulsa yang anda miliki telah habis. Silahkan melakukan isi ulang Bro!

Ezi : Semenjak itu... enggak ada lagi kabar dari sono. Tapi ngomong-ngomong, udah mau mendung... Masuk ke dalam yok. Nanti gue kenalin sama yang lain.

 Ve, Ezi, Shania, Dhike, Sendy, dan Odang masuk ke dalam gedung. Pesawat milik Ve? "Diparkir" begitu saja di atap gedung. Ternyata di dalam gedung ada 2 orang lain lagi. Romidi, seorang tukang bubur dan Wilo, seorang sekuriti mall yang sementara berjaga-jaga di basemen.

Romidi : Gue punya ide! Gimana kalo elu bawa kita satu per satu ke Arcaida!

Ve : Sori, kayaknya gak bisa

Ezi : Ve mendarat disini aja itu sudah merupakan keajaiban. Kalo 3 kali, itu bunuh diri namanya. Membawa semua orang sekaligus bukan ide bagus. Pesawatnya Ve terlalu kecil.

Ve : Pasti ada cara lain...

Ezi : Sebenarnya sih, ada... cuma gue kurang yakin... Ikut gue.

Ve mengikuti Ezi ke basemen. Di sana, mereka bertemu dengan Wilo yang sedang duduk menjaga seseorang dibalik jeruji besi.

Wilo : Bro, perasaan gue gak enak... Gue dengar suara di sekitar tembok sebelah sana!

Ezi : Perasaan lu kali aja Wilo? Tapi... Ya udah. Kita cek. Ve, "jalan keluar" yang gue bilang adalah tuh orang yang dibalik jeruji besi. Dia biasa dipanggil pake nama sandi Hackler. Gue tinggal bentar dulu ya. Kalau ada apa-apa, lambaikan tangan ke kamera aja!

Ve : Oke...

Ezi dan Wilo pergi mengecek sumber suara yang dikatakan. Sementara itu, Ve memesan nasi goreng mendekati jeruji besi. Terlihat seseorang yang memakai pakaian perang. Bisa ditebak, dia itu bukanlah tukang kayu.

Ve : Hey

Hackler : Gue udah tau... Lu pengen mencari jalan keluar kan?

Ve : Kok tau?

Hackler : Gue tau jalan keluar dari sini. Tapi tolonglah, lu bilangin mereka buat bebasin gue.

Ve : Bagaimana caranya lu bisa ada di situ?

Hackler : Gue ditipu sama penghuni asli sel ini. Lu gak tau ya? Ini kan LP!

Ezi : Gue kembali! Ada yang kangen sama gue?

Suasana menjadi hening...

Ezi : Oke..

Ve : Si Wilo mana?

Ezi : Di kamar mandi. Kebetulan sumber suaranya dari kamar mandi. Waktu diperiksa, cuma pipa bocor. Dia lagi perbaiki.

Ve : Perasaan gue gak enak... Gue mau ngecek dia.

Ezi : Ye udah. Lurus aja ke sana sampe lu ketemu gerobak dari gabus. Di situ lah kamar mandinya!

Ve : Sip. Makasih

Ve berlari ke kamar mandi. Dia mempunyai feeling yang kurang bagus tentang Wilo. Entah apakah Wilo kelepasan di kamar mandi atau ketiduran atau mungkin digebukin si buta dari gua monyet. Yang jelas, ketika sampai di kamar mandi. Ve melihat Wilo basah kuyup, habis mencoba memperbaiki pipa bocor.

Ve : Wilo!

Wilo : *menatap Ve kebingungan*

Ve : Oh, syukurlah elu enggak apa-apa

Wilo : Ha? Emangnya lu kira bakal ada zombie yang bisa nyunsep ke dalam terus gigit gue gitu?

Tiba-tiba ada zombie yang menarik Wilo masuk ke dalam sebuah lubang di tanah. Ve sebenarnya bisa menyelamatkan Wilo tapi sayang, dia kepleset di lantai yang licin. Beberapa zombie keluar dari lubang yang sama. Walaupun tidak sejago yang dulu, para zombie masih tetap menjadi korban kejagoan Ve.

Setelah para zombie tewas (lagi), tak lama kemudian Ezi dan yang lain datang layaknya orang yang mengantri LPG.

Ezi : Zombie?! Gimana caranya mereka bisa masuk?!

Ve : Dari lubang itu tuh...

Odang : Siapa yang ngajarin mereka cara menggali tanah?!

Narrator #1 : Siapa yang liat kacamata gue?

Suasana menjadi hening sesaat...

Ve : Kita harus mencari jalan keluar. Sekarang!

Ezi : Gue tau! Tapi gimana caranya?

Ve : Tidak ada pilihan lain... Kita mesti tanya Hackler.

Ezi : Gue gak percaya sama tuh orang.

Narrator #2 : Gue sih percaya aja... Berhubung di naskah tertulis demikian.

Setelah melalu beberapa pertimbangan, Ezi dan rombongan akhirnya memutuskan untuk membebaskan Hackler dari sel.

Hackler : Tepat waktu

Ezi : Kalo lu macem-macem, gue cincang lu jadi sayur bacem!

Hackler : Udah tenang aja... Sini ikut gue ke garasi

Odang : Di gedung ini ada garasi?!

Hackler : Ada, tapi cuma gue yang tau kodenya

  Hackler membawa rombongan ke garasi. Lokasinya? Tepat dekat pintu gerbang dari gedung. Terlihat banyak zombie dari luar gedung sedang susah payah mencoba merubuhkan tembok yang terbuat dari pohon tomat.

Hackler memasukan kode rahasia pada alat di sebelah pintu. Pintu garasi terbuka perlahan-lahan.

Hakcler : Biasanya kalau pada saat kacau seperti ini, Gue dan teman-teman satu tim biasa memakai kendaraan tempur generasi terbaru ini.

Shania : Semacam tank ya?

Hackler : Lebih tangguh daripada tank, lebih lincah daripada heli serang.

Ve : Wow... Keren

Hackler : Dipersenjatai dengan chaingun M242 25 mm. Benda ini juga dipersenjatai dengan M240 C. Untuk menghadapi target-target besar seperti tank, benda ini dipersenjatai dengan sistem misil TOW.

Ezi : Weits! Keren banget coy!

Hackler : Belum lagi ditambah dengan beberapa M231 FPW yang memperbolehkan penumpang untuk menembak keluar. Mengingat ini generasi baru, benda ini punya kemampuan untuk mengapung di air dan memutar lagu dangdut pada saat bersamaan.

Ketika pintu sudah terbuka. Semua orang hanya melihat Delman. Semangat yang tadinya berapi-api untuk melihat kendaraan tempur generasi baru, kini hilang secara tiba-tiba. Semua orang kecuali Hackler terlihat lesu seperti terkena busung lapar.

Dhike : Itu... Delman kan?

Sendy : Iya, Delman.

Ezi :Gue kira komedi putar...

Odang : Gue kira kicir-kicir!

Narrator #2 : Lu berdua ternyata otaknya sobek ya!

Ezi : Lebih sobek si Hackler! Masa Delman dibilang kendaraan tempur generasi terbaru?!

Hackler : Ini sebenarnya tank

Ve : Tapi menyerupai Delman?

Hackler : Bukan, ini dulunya tank terus gue jual lalu gue beli Delman.

Ve, Dhike, Sendy, Shania, Ezi dan Odang : .............

Tiba-tiba sebuah monster yang jeleknya tidak manusiawi merubuhkan pintu depan. Monster besar itu memegang kapak dan kepalanya ditutupi tong sampah. Ketika semua orang sedang syok, Romidi tewas dibunuh monster itu.

Odang : Ezi! Saudara lu dateng!

Ezi : Kampret! Ini bukan waktunya bercanda!

Hackler : Gak ada waktu! Semuanya naik!

Dhike : Memangnya muat?

Hackler : Dempetan aja! Ladies first!

Ve : Bentar, gue mau kalahin tuh monster dulu!

Ezi : Pake apa? Sapu ijuk ini? Ngaco lu...

  Ve mengambil sapu ijuk yang dipegang Ezi lantas mengubahnya menjadi senjata mematikan andalannya! Sapu runcing. Siapa sangka, ternyata monster yang luar biasa mengerikan dengan gampang dikalahkan. Semua orang syok.

Sendy : Sejak kapan dia jadi jago begitu?

Narrator #1 : Hem, dari seri pertama... dia kesandung kulit pisang.

Shania : Bentar, yang narik delman siapa?

Hackler : Gue gak mau tau, gue mau jadi kusir aja.

Akibat pintu depan sudah rubuh, beribu-ribu zombie menyerbu masuk. Ditengah-tengah kepanikan, semua orang tanpa berpikir panjang langsung naik delman.

Ezi : Odang! Lu yang jadi kuda!

Odang : KUDA?!

Ezi : Maksud gue yang narik delman!

Odang : Kenapa mesti gue?!

Ezi : Karena elu bertenaga kuda!

Odang : Kampret...

Terpaksa, Odang yang menarik kuda delman. Tapi, ternyata dia kurang kuat.

Narrator #2 : Ezi, lu bantuin dia!

Ezi : Kok gue? Gue enggak bertenaga kuda!

Narrator #2 : Tapi tampang lu mirip!

Ezi : Kampret... *turun membantu Odang*

Dengan bantuan Ezi, mereka mencoba menembus kepungan zombie-zombie dengan delman. Tapi karena Ezi dan Odang kurang cepat, Hackler pun turun tangan membantu. Siapa sangka, dengan bantuan Hackler, delman menjadi sangat cepat. Banyak zombie yang menghadang tapi mereka digilas. Para cewek? Duduk di dalam delman sambil memukul mundur setiap zombie yang mencoba naik.

Berkat kerjasama mereka (yang sangat tidak masuk akal). Mereka sampai di Arcaida. Sayangnya, kapalnya sepi. Mereka memutuskan untuk menyelidiki. Penyelidikan mereka tidak sia-sia, mereka menemukan pintu berlogo Umbrella.

Ve : Hm...

Ezi : Kampret! Ternyata ini jebakan!
 
Ve : Oke, Shania, Hackler, ikut gue. Yang lain, periksa keadaan sekitar!

Dhike : Okelah...

  Ve, Shania dan Hackler memasuki pintu itu. Ternyata ada sebuah monster lain lagi.

Monster : Ah, Ve?

Ve : Ya?

Monster : Sudah kuduga! Sekarang, siap-siap untuk mati!

Monster menyerang Ve dan kawan-kawanya. Shania dan Hackler mencoba melawan tapi serangan mereka sia-sia. Begitu juga dengan Ve.

Ve : Sial, sapu runcing ketinggalan di delman!

Shania : Terus gimana nih?

Tiba-tiba ada seorang OB melintas membawa sapu ijuk. Ve langsung mengambil sapu ijuk itu lalu mengubahnya menjadi sapu runcing.

OB : Lho? Eh?

Ve : Pinjem dulu bang!

Dengan gampang, monster itu pun babak belur dihajar oleh Ve. Setelah mengalahkan monster, trio membahana itu berjalan keluar dari ruangan. Mereka melihat banyak sekali orang-orang yang baru dibebaskan oleh Ezi dan yang lain. Di antara orang-orang itu, ada beberapa teman-teman lama seperti Kinal, Stella, Jaka, dll. Yang tidak terlihat hanya Rica dan Twelve.

Shania : Jadi... sekarang gimana?

Ve :*Melihat radio*

Hackler : *Tersenyum lalu menyalakan radio dan memberinya pada Ve*

Ve : Disini Arcaida, datanglah ke kami. Disini ada makanan, minuman, tempat tidur dan yang paling penting... Tidak ada zombie. Kami tidak berada di Alaska, kami ada di tengah-tengah laut.

Hackler : *Mematikan radio* Heh... dengan orang sebanyak ini... Kita bisa membersihkan dunia dari zombie... satu per satu...

  Sementara itu, di tengah-tengah kota... Seorang laki-laki berlari membunuh 2 zombie yang mengejarnya. Laki-laki itu adalah Twelve.

Twelve : Bentar, gue cuma beginian aja terus parodinya selesai?!

Narrator #1 : Yoi.

Twelve : Kurang ajar... Ngapain juga gue akting keren-keren padahal cuma buat closing doang?

Tiba-tiba banyak helikopter berlogo Umbrella melintas. Di dalam salah satu pesawat itu... Ada Rica yang memakai pakaian pasukan khusus Umbrella. Di kepalanya Rica, ada alat pengendali pikiran yang sama persis dengan yang ada di kepala Shania yang berhasil dicabut oleh Ve.

Rica : Dengar pasukan! Target kita adalah Ve! Dia mempunyai kemampuan bela diri yang luar biasa di luar dugaan. Terutama jika dia sudah memegang sapu runcing. Tangkap Ve hidup-hidup. Yang lain, terserah kalian! Apa kalian mengerti!

Pasukan Khusus Umbrella : SIAP! KAMI MENGERTI!

Helikopter-helikopter itupun semakin mendekati Arcaida. Ve, yang sekarang ada di atas kapal diam melihat helikopter-helikopter Umbrella yang luar biasa banyak.

Ve : *Menepuk jidat* Sekuel... lagi...

The End (?)
*********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar