Selasa, 12 Maret 2013

[Parodi] Resident Vevil

Halo sobat readers!

  Leaper di sini. Kali ini gue ingin menunjukan sebuah parodi ngaco dari film resident evil. Pertama-tama, gue pengen mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya sama yang nulis buku parodi film (Gue lupa nama penulisnya siapa dan judul bukunya apa) karena parodi ini pada dasarnya sangat terinspirasi dari parodi yang ditulis Kakak.

Hehe, moga-mogahan sobat readers tidak mules setelah membaca parodi asal-asalan yang gue tulis ini.


****

Resident Vevil

  Suatu malam, Veranda terbangun dari tidurnya. Hal ini mengejutkan teman sekamarnya.

Sonia : Ve? Kamu kenapa?

Veranda : Enggak bisa tidur. Aku mau jalan-jalan dikit di luar.

Sonia : Oh, ya udah. Bikin kaget aja...

Veranda kemudian keluar dari kamar. Beberapa menit lamanya dia berjalan ke lobby hotel. Sesampainya di sana, ada beberapa OB sedang membersihkan lantai dan receptionist sedang menunggu tamu yang sepertinya tidak akan datang tengah-tengah malam.
   
Tiba-tiba pasukan Khusus mendobrak masuk dengan cara memecahkan pintu kaca agar terlihat lebih eksis (dan lebih greget). Dengan cepat mereka menodongkan senjata ke para OB, receptionist dan Veranda.

Kapten Pasukan Khusus : Tim Kijang mules segera blokir pintu masuk! Tim Macan galau segera amankan perimeter! Yang lainya, buat apa sajalah yang biasa kalian buat di pengeledahan rumah!

Kapten Pasukan Khusus melihat ke arah Veranda.

Kapten : Kamu tau siapa kita?

Veranda : Sebentar... Hm, baju hitam, persenjataan modern, sangat teroganisir... Em, Pasukan Khusus?

Kapten : Kamu terlalu pintar! Dadang, Twelve! Tangkap dia!

Dadang & Twelve : Siap Laksanakan!

Dengan sigap Dadang menangkap Veranda yang sementara kebingungan

Veranda : Eh, apa-apaan ini?!

Dadang : Ve JKT48 ya?

Veranda : Iya

Dadang : Ya amun! Kenalin! Saya Dadang! Saya nge-fans banget sama eneng!

Twelve : Bo’ong tuh, menurut naskah di sini lu itu anggota pasukan khusus yang enggak suka musik

Kapten Pasukan Khusus : Diam! Tim Perkutut alay, ikuti saya! Dadang, Twelve, bawa tu cewek sama kita!

Twelve : Siap Laksanakan Pak!

Dadang : Tapi kenapa nama tim-tim yang ada rada-rada aneh ya?

Twelve : Lu enggak baca judulnya? “Resident Vevil”. Jelas-jelas ini parodi Resident Evil! Jadi gak heran kan kalo isinya pada ngaco semua?

Green_Leaper sebagai penulis : Diem lu gan ato gue hapus semua perkataan lu!

Twelve : Emangnya bisa?

Green_Leaper sebagai penulis : *siap-siap menekan tombol backspace*

Twelve : Oke! Oke! Kapten! Pimpin jalanya!

Sang Kapten beserta tim Perkutut Alay membawa Veranda ke balik meja receptionist. Kapten mengetuk tembok dekat meja itu beberapa kali, ternyata tembok itu adalah pintu rahasia. Mereka masuk dan mengikuti jalan yang ada.

Jalan tersebut membawa mereka ke fasilitas penelitian rahasia bawah tanah yang sangat besar. Mereka dihadang oleh sebuah pintu besi. Dengan lincah Twelve meng-hack password pintu itu sehingga pintunya mulai terbuka perlahan-lahan.

Kapten : Twelve, Kamu enggak bisa bikin ni pintu terbuka lebih cepat ?

Twelve : Yah, kalo Bapak mau, Bapak bisa mencoba menarik pintunya biar kebuka lebih cepat.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, pintu sudah terbuka lebar. Mereka melanjutkan perjalan mereka. Mereka sampai di sebuah ruangan besar dan luas. Secara tidak sengaja, mereka bertemu dengan seorang remaja bernama Otong yang tidak tau bagaimana caranya dia ada di situ. Dengan cepat, dia juga ditangkap oleh Dadang.

Otong : Heran, kenapa saya ditangkap?

Veranda : Iya nih, kenapa kita ditangkap?

Twelve : Gue gak tau. Yang gue tau, itu sudah tertulis di naskah.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka sampai mereka berada di sebuah lab. Ada banyak mayat di sana dan di sini.

Veranda : Hey! *Menunjuk ke seorang figuran yang berperan menjadi mayat tapi masih bernapas* Masih ada yang hidup!

Twelve : *Membaca naskah* Bah, di sini dia peranannya jadi mayat. Biarin aja.
 
Veranda : Tapi kasihan dia!

Twelve : Lebih kasihan Kapten, dia pernah dikira komodo waktu lagi latihan di hutan bersama kesatuan militer Indonesia.

Kapten : Ehem!

Twelve : Tenang saja Pak! Kalau dia bicara, akan saya tabokin dia pake koran!
 
  Tiba-tiba mereka menemukan sebuah lorong sempit yang ada pintu di kedua ujungnya.

Kapten : Dadang! Analisa!

Dadang : Kok saya?

Kapten : Suka-suka gue dong!

Dadang : Oke... ehm... Kayaknya...

Kapten : Cukup bagus! Twelve, Dadang, Tetap di sini bersama tawanan. Tim Perkutut Alay ikut aku!

Dadang : ................

Kapten beserta timnya memasuki lorong itu. Tiba-tiba pintu secara otomatis terkunci sehingga mereka terkunci di dalam. Sistem keamanan pun aktif. Laser mulai muncul dan memotong pasukan 1 per 1.

Veranda : *Menutup mata*

Otong : *Menutup mulut*

Dadang : TWELVE! CEPET HACK TU SISTEM KEAMANAN SEBELUM KAPTEN MATI!

Twelve : Tumben lu peduli sama Kapten

Dadang : Kalo Kapten mati, siapa yang bayarin kontrakan gue?!

Twelve : Ya okelah, tak liat dulu. *Membuka laptop dan mulai mencoba menghack sistem keamanan*... Oke! Selesai!

Pintu pun terbuka tapi mereka terlambat. Seluruh tim telah mati terpotong-potong.

Dadang : Twelve... Lu kenapa selalu terlambat?!

Twelve : Lu kenapa selalu datang terlalu cepet?

Veranda : Sekarang gimana nih?

Twelve : Lanjutin misi... Kita bakal matiin si ratu sejagad

Veranda : Ratu sejagad?

Twelve : Kalo Resident evil kan ratu merah. Tapi ini parodinya bro!

Mereka melanjutkan perjalanan mereka dan menemukan konsol ratu sejagad. Ratu sejagad muncul sebagai gambar anak kecil holografik.

Ratu sejagad : Tolong, jangan matikan saya!

Twelve : Gak mau, lu dah matiin semua orang di fasilitas bawah tanah ini dengan sistem keamanan!

Veranda : Tapi kenapa dia mau bikin hal kayak gitu? Pasti ada alasanya kan?

Dadang : Bener juga sih... Tapi gue enggak dibayar buat dengerin alasannya

Ratu sejagad : Kalo kalian matikan saya, kalian enggak bakalan bisa keluar dari sini!

Dadang : Banyak bacot lu. Twelve, matiin dia aja bro!

Twelve : Bentar *Membuka laptop, twitteran, menutup laptop* Oke! *Mengambil chip ratu sejagad*

Sekejap seluruh sistem keamanan mati diikuti dengan lampu. Untung ada generator cadangan yang mampu menyalakan lampu.

Dadang : Misi selesai! Ayo kita keluar!

Namun karena sistem keamanan telah mati, zombie-zombie yang awalnya terperangkap kini lepas dan menyerang Dadang, Twelve, Otong, dan Veranda.

Dadang dan Twelve mulai menembak sementara Otong mengeluarkan gitar dan mulai bernyanyi lagu “Iwak peyek”. Veranda tampak kebingungan. Tiba-tiba muncul beberapa zombie anjing, mereka mulai menyerang Veranda.

Veranda berlari tapi tersandung kulit pisang. Entah mengapa, Setelah tersandung pisang tiba-tiba Veranda menjadi jago. Zombie-zombie anjing menjadi korban dari kejagoan Veranda.

Karena jumlah zombie terlalu banyak, Dadang mulai kewelahan dan tewas dimakan. Otong menghilang entah kemana. Veranda memimpin Twelve berlari ke tempat yang aman.

Veranda : Berhubung cuma tinggal kita berdua, bagaimana kalo kita saling kenalan aja dulu? Namaku Jessica Veranda, kamu boleh panggil Ve.

Twelve : Sebenernya kita harus perkenalkan diri lebih awal tapi ya udah deh, nama gue twelve! Panggil aja Twelve!

Veranda : Twelve kan kode nama buat kamu. Enggak sopan buat aku. Nama asli kamu siapa?

Twelve : Vidorosvksi Draguvich Genzambawa Getamburo Tagawa Johnson David Macurius Gracius Mills

Veranda : ..................

Twelve : Napa?

Veranda : Oke Twelve, ada ide?

Twelve : Yah, kita coba hidupin lagi Ratu sejagad. Siape tau dia bisa bantuin kita.

Twelve menaruh chip ratu sejagad di tanah kemudian menginjaknya sekali. Ratu sejagad kembali hidup dan muncul sebagai gambar anak kecil holografik.

Ratu Sejagad : Berubah pikiran?

Veranda : Iya, kita perlu bantuan buat keluar dari sini

Twelve : Plus, kita mau dengerin napa lu matiin orang-orang di sini

Ratu Sejagad : Begini lho, Fasilitas ini dimiliki perusahaan Umbrella. Mereka membuat penelitian tentang virus T. Virus ini meregenerasi sel-sel yang sudah mati. Tapi, Virus itu berhasil menyebar ke seluruh fasilitas sehingga saya terpaksa harus mengunci fasilitas ini agar virusnya tidak menyebar ke permukaan.

Veranda : Lalu yang kayak zombie-zombie itu?

Ratu Sejagad : Mereka adalah kru dari fasilitas ini yang terinfeksi. Mereka sekarang hanyalah zombie yang terdorong untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok manusia

Twelve : Berkembang biak ?

Ratu Sejagad : Bukan. Mereka ingin terus makan dan mereka hanya akan makan manusia.

Veranda : Lalu ada cara buat kita keluar dari sini?

Ratu Sejagad : Ada, tapi kalian harus memakai kunci yang ada di kantor utama buat keluar dari fasilitas ini lewat elevator.

Twelve : Tapi kantor kan pusat dari fasilitas ini! Pasti penuh dengan zombie tuh!

Veranda : No pain, no gain *melihat ke Twelve*

Twelve : Pfft... ya udah. *mengambil chip Ratu Sejagad*

  Veranda dan Twelve pergi ke kantor sambil mengalahkan setiap zombie sepanjang jalan. Ketika mereka sampai di kantor, mereka mulai mencari kunci. Kebetulan mereka mendapatkan anti-virus dan kunci. Mereka berdua bergegas berlari ke arah elevator.

Tiba-tiba mereka dihadang oleh sebuah monster ganas. Terjadi pertarungan sengit. Veranda dengan cepat mendekati monster itu dan mulai menyerang dengan cepat. Twelve mencoba menembak monster itu tapi takut mengenai Ve yang sedang bertarung dengan monster itu.

Berkali-kali monster itu dikalahkan oleh Ve tapi sepertinya monster itu tidak akan mati. Karena kesal dari tidak bisa menembak, Twelve melemparkan sebuah sapu ijuk ke arah monster itu dengan harapan monster itu alergi sapu ijuk.

Lemparan twelve mengenai sasaran tapi monster itu malah tertawa terbahak-bahak.
Kesempatan itu dipakai oleh Ve, dia mengambil sapu ijuk itu lalu dengan cepat dia mengubah sapu itu menjadi senjata paling mematikan ; sapu runcing (yang masih sejenis dengan bambu runcing). Dengan sekuat tenaga, Ve menikam monster itu.

Siapa sangka monster itu dapat dikalahkan oleh sapu runcing. Sialnya para zombie mulai muncul.

Twelve : Ve! Cepet masuk ke elevator!

Ve berlari masuk ke elevator disusul oleh Twelve. Twelve menutup pintu elevator dan menekan tombol “emergency exit”. Lantas elevator membawa mereka ke atap hotel. Sialnya ketika pintu elevator terbuka, mereka berdua dipukul pingsan oleh sekelompok orang berpakaian putih.

Ketika Veranda membuka matanya, dia ada di dalam kamar hotel tempat tidurnya. Dia melihat keluar jendela, kota sudah hancur berantakan.

Mengumpulkan semua keberanian, Ve melangkah keluar ke lobi dan melihat banyak darah berceceran di lantai. Tidak ada tanda-tanda dari teman-temannya. 

Melihat kekacauan ini, dia tau 1 hal ; akan ada sekuel.

 The end (?)
*****

  Demikian sobat readers, gimana? Ngaco banget kan? Hehe, itu karena otak gue lagi korslet tingkat Eifel waktu nulis ini. Sekali lagi, gue ingin berterimakasih sama yang sudah buku parodi film (yang gue lupa judulnya apa) karena gue benar-benar terinspirasi dari bukunya. Mungkin sobat readers juga merasa familiar dengan beberapa adengan yang ada.

Selanjutnya gue pengin terimakasih sama sobat readers sekalian karena sudah mau membaca parodi (ngaco) yang gue tulis ini.

   Kenapa?

Yah, gue lupa naruh bukunya di mana... Moga-mogahan aja gue ketemu bukunya. Kalo ketemu bukunya, pasti nama dari penulis bukunya gue cantumkan deh dan tentu saja, judul bukunya juga bakal gue cantumkan sekalian gue promosiin (walaupun gue ragu bukunya masih tersedia di toko atau tidak).

  Jika ada kritik, saran, pujian, dan uneg-uneg yang ingin disampaikan. Silahkan berkomentar sobat readers!

Salam hangat buat sobat readers!

2 komentar:

  1. Oy oy... Ini cerita genre-nya apaan -,-?
    Tapi untuk sekedar ngilangin galau, ini berguna! Bhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Kak Aziz muncul!

      Genrenya sih (seharusnya) Horror, (jadinya)komedi.
      Hehe, makasih Kak.

      Untuk kedepanya, gue akan usahakan lebih baik lagi.

      Hapus