Jumat, 08 Maret 2013

Gadis Misterius di Pinggir Kuburan : Part 2

Gadis Misterius di Pinggir Kuburan

  Gadis Misterus di Pinggir Kuburan adalah sebuah cerita fiksi bergenre misteri-rada ngaco karya Leaper (Dalam hal ini, gue).

Moga-moga gue berhasil menghibur sobat readers sekalian tanpa membuat para readers sakit kepala gara-gara bahasa gue yang ambur-adul

  Episode sebelumnya,  setelah Zano dan Andi berhasil menangkap maling berkat pertolongan sebuah gadis asing bernama Miranda di pemakaman. Zano dan Andi pulang ke kampung Sukamujur untuk istirahat. Tiba-tiba, mereka bertemu dengan Sesil...

Selengkapnya dari part 1, DI SINI

**

Part 2 :  Kasus Baru

  Betapa senangnya kita setelah berhasil menyerahkan maling itu ke kampung sebelah. Matahari juga sudah mulai terbit. Gue melirik jam tangan gue. 07.00 AM . Sudah waktunya kami pulang ke kampung Sukamujur. Ditengah-tengah perjalanan...

  "Eh, Zano" kata Andi
  "Napa?" balas gue
  "Tentang si Miranda..."
  "Oh, yang tadi malem ngelemparin batu? Iye, napa?"
  "Kayaknya gue pernah liat tuh cewek tapi di mana gue gak inget" Andi menggaruk-garuk kepalanya
  "Kayaknya Miranda gak kenal sama kita"
  "Emang sih, tapi gue yakin gue pernah ngeliat tuh cewek"

Gue hanya menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda kalau gue meragukan ingatan dari Andi.

  "Lha? Itu Sesil kan?" Andi menunjuk ke depan.

Spontan, gue melihat ke arah yang sama. Gue melihat Sesil berlari dari kejauhan ke arah gue dan Andi. Ngapain nih anak pagi-pagi ada di dekat kampung sebelah?

  "Iya itu Sesil" kata gue ke Andi
  "Ngapain adik lo pagi-pagi di sini?" tanya Andi
  "Nggak tau, kalo menurut hipotesa gue, kayaknya dia nyari kita"
  "Yaelah, bahasa lo... berkelas amat" kata Andi
  "Emang napa kalo bahasa gue berkelas?"
  "Enggak cocok sama muka lo yang gak berkelas!" ledek Andi
  "Sialan lo"

Sesil menghampiri kita berdua dengan napas terengah-engah kayak baru dikejar-kejar sama macan. Kami berdua? cuma diam ngeliat tuh anak. Tapi, mukanya Sesil pucat. Hal ini berhasil membuat gue cemas.

  "Sesil?! Lo kenapa? Abis dikejar-kejar helder?" tanya gue ke Sesil sambil menatap mukanya yang pucat
  "I-i-itu Kak... Anu... T-t-tadi malem..." jawab Sesil terbata-bata (bukan batu bata)
  "Ha? Ngomong yang jelas lah atu" balas gue dengan nada kawaktir
  "Begini... Kak, tadi malem... Sesil habis belajar..."
  "Terus, kunaon (Terus, kenapa) ?" kata gue dengan logat Sunda seadanya
  "Sesil keluar rumah bentar buat refreshing otak. terus...terus.. itu..."
  "Itu apa?"
  "Sesil liat ada penampakan!" 
  "APA?!" seru gue dan Andi pada saat bersamaan

  Yang barusan dikatakan Sesil sukses besar membuat gue kena stroke sementara. Gue enggak tau dengan Andi, kayaknya sih dia gak ngerti Sesil ngomong apaan.

  "Ses, gue tau lu itu orangnya imut. Tapi gue gak ngerti lo ngomong apa" kata Andi. Tuh kan gue bilang apa?
  "Diem lo!" kata gue ke Andi. Gue berbalik menatap Sesil sambil membersihkan keringat yang memenuhi mukanya. "Penampakan gimana gih?" tanya gue
  "Sesil liat tengkorak manusia berjalan memasuki rumah tetangga-tetangga!"
  "Lo yakin itu tengkorak bukan baju jemuran yang kebawa angin?" tanya Andi
  "Kak Andiiii, Sesil serius nih!" keluh Sesil
  "Iye,iye, sori Ses" kata Andi
  "Bentar, Sesil. Selain tuh tengkorak memasuki rumah warga, dia ngapain lagi?" tanya gue
  "Sesil liat abis dia memasuki rumah warga, dia keluar lagi tapi membawa cincin punya tetangga. Trus dia ngelihat Sesil, dia nunjukin telunjuknya ke Sesil seolah-seolah dia pengen bunuh Sesil, terus dia menghilang! Serem banget Kak, Sesil malahan nyari Kakak" jawab Sesil yang kayaknya sudah mulai menangis ketakutan.

"Apa?" pikir gue. Jadi, dari tadi malem Sesil nyari-nyari gue? Sial, Kakak macam apa gue?! Gue lalu memeluk Sesil.

  "Udah,udah... Jangan nangis ya" kata gue ke Sesil.
  "Kakak, lain kali jangan tinggalin Sesil sendirian di rumah malam-malam. huuu..." kata Sesil
  "Yoi deh, Kakak janji. Kakak enggak bakal tinggalin Sesil sendirian lagi malam-malam"
  "Beneran Kak?"
  "Hehe" gue tersenyum sambil melepaskan pelukan gue. "Kakak enggak mungkin buat janji yang gak bisa Kakak tepatin"
  "Makasih Kak"

  Sejenak suasana ini menjadi sangat mengharukan. Sampai-sampai Andi ikut-ikutan menangis. Untuk sesaat, gue sempat berpikir.. Kenapa nih anak gak sembunyi dalam rumah aja? Tapi gue inget, kalo Sesil itu tipe orang yang takut menghadapi makhluk astral sendirian.

  "Loe kenapa Andi? Loe mau gue peluk juga?" ledek gue melihat Andi yang mulai menangis
  "Najis gue dipeluk sama loe Zano! Gue terharu aja, mengingat muka loe miripan sama topeng monyet yang baru nemuin majikannya" balas Andi
  "Kampret loe!"

  Sesil entah mengapa, masih menangis. Apa dia kebelet ya?

  "Ses, kenapa masih nangis?" tanya gue
  "Kakinya Sesil keinjek..." bisik Sesil
  "Ha?" gue melihat ke kakinya Sesil. Ternyata gue gak sengaja menginjak kakinya Sesil. "Oh, sori!" gue melangkah mundur.

Andi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gue. Lalu tiba-tiba dia terdiam seperti memikirkan sesuatu...

  "Tapi Ses, Kalo loe ke sini berarti loe harus lewat area pemakaman kan? Loe lewatin itu sendirian?" Andi memasang tampang penasaran
  "Oh enggak kok Kak Andi, Sesil ditemenin sama seorang Kakak perempuan." jawab Sesil
  
  Gue dan Andi memandang satu sama lain. Andi mengangguk, seolah-olah dia sudah tau apa yang ada di pikiran gue.

  "Miranda" kata gue dan Andi bersamaan
  "Ya" jawab Sesil
  "Ya udah, mending sekarang kita pulang aja dulu ke rumah masing-masing. Bentar siang, kita bertiga ngumpul di pos ronda" kata gue sok jenius
  "Sip, sekalian gue mau lapor Pak RT gaul tentang keberhasilan kita tadi malem" sahut Andi
  "Mantap" kata gue ke Andi. Gue berbalik ke Sesil "Ses, lo gak teriak tolong waktu ngeliat itu setan?"
  "Enggak, Kak. Sesil gak tau kenapa, Sesil tiba-tiba jadi bisu"
  "Eh... Oke.... Ya udahlah... Mending kita balik aja"

Lalu kami bertiga berjalan kembali ke kampung Sukamujur.
*****

   Siangnya...

Suasana di kampung Sukamujur sudah tampak mulai ramai (karena masih siang hari) . Gue duduk di pos ronda dengan Sesil menunggu Andi.

  "Ses, sebenarnya Kakak gak yakin nih kalo Sesil bisa ikut Kakak bentar malem" kata gue
  "Ih, Kakak. Sesil takut sendirian. Untung tadi malam setannya cuma pelototin sesil, tapi siapa tau bentar malam dia mau coba bunuh Sesil" balas Sesil
  "Bukan masalah bunuh-ngebunuh Ses. Kakak gak yakin aja kalo kamu kuat lari kayak Andi sama Kakak"
  "Gini-gini Sesil juara 1 di lomba lari lho!"
  "Beuh, iya juga... Kakak lupa.." Gue menggaruk-garuk kepala gue seperti monyet.
  "Ah, itu Kak Andi!" Sesil menunjuk ke depan

Gue melihat ke depan juga. Andi datang membawa seorang remaja laki-laki yang gue kenal.

  "Oy, Zano, Sesil!" sapa remaja itu. Sesil hanya tersenyum.
  "Weh, Anton!  lu ikutan juga?" sapa gue

 Anton adalah salah satu teman pergaulan gue di kampung Sukamujur. Orangnya jauh lebih tinggi daripada kita dan tentunya jauh lebih tua.

  "Yoi. Gimana kabar lu mblo?" balas Anton sambil meledek. (Ya, gue emang jomblo dan kadang-kadang dipangill mblo)
  "Ya, gue masih sakit" jawab gue
  "Sakit apaan?" tanya Anton
  "Tuna asmara" jawab gue dengan tampang pasrah
  "Loe mah, tuna asma" ledek Andi
  "Kampret loe, mentang-mentang yang masih jomblo cuma gue... sombong lu pada"
  "Hahahaha" Andi, Anton, dan Sesil tertawa berbarengan.
  "Jadi gimana?" tanya Andi
  "Kita tanya warga sekitar. Gue yakin mereka pasti udah pada resah tentang cincin mereka"
  "Bokap sama nyokap gue udah rusuh tuh tentang cincin yang hilang" kata Anton
  "Ortu gue juga" kata Andi
  "Kak Zano sebagai satu-satunya keluarga yang aku punya gak rusuh tuh karena dia enggak pernah beliin aku cincin" kata Sesil. Gue melirik ke Sesil dengan tampang mirip perkutut yang keselek pisang.

Entah mengapa, suasana menjadi hening sejenak....

  "Oke, kita bakal datangi rumah warga satu. Terus kita periksa apa ada yang aneh ato kagak" kata gue
  "Bentar dulu, " kata Anton dan Andi kompak
  "Napa?" tanya gue
  "Kampung kita kan luas banget. Warganya banyak. Lu mau kita buat keliling SELURUH kampung?!" kata Andi
  "Yah, emangnya loe ada ide lain?" tanya gue ke Andi
  "Enggak juga sih..."
  "Ya udah, lagian kita juga udah disuruh Pak RT gaul. Yok, cabot!"

  Akhirnya, kami berempat (dengan terpaksa) mengelilingi desa. Satu per satu rumah warga kami datangi. Setelah melakukan penyelidikan (yang panjang dan melelahkan) terhadap seluruh rumah warga desa. Kami berhasil menemukan suatu petunjuk. Ternyata penampakan tengkorak yang dilihat Sesil meninggalkan sebuah jejak yang berupa kumpulan debu yang menyala di salah satu rumah warga.

Hari sudah malam dan seluruh warga sudah mulai masuk tidur, kami memutuskan untuk berkumpul di pos ronda untuk beristirahat sebentar dan berdiskusi rencana selanjutnya.

  "Fuh... gue capek" keluh Anton
  "Jadi gimana? Kita cuma nemuin ini debu yang menyala" kata Andi sambil memegang kantong yang isinya debu menyala.
  "Heh, yang gue tau pasti ni setan terobsesi sama cincin dan gue gak tau mau ngapain selanjutnya... Mungkin kita bakal tanyain hal ini ke orang yang berpengalaman" kata gue ngasal
  "Jiah... parah loe Zano... gue kira loe udah punya rencana" kata Andi
  "Bentar, gue pikirin dulu" kata gue sambil memasang tampang Einstein. "Gimana kalo kita malem ini ngumpul deket rumah gue aja? Kita tunggu sampe tuh setan yang tadi malem nakut-nakutin Sesil muncul terus kita bertiga keroyok"
  "Gue gak yakin kalo tuh setan mau nongol buat kita keroyokin" kata Anton
  "Gue yakin tuh setan pasti muncul! Biar bagaimanapun, masih ada warga yang punya cincin kan? Kita cegat dia waktu dia mau nyolong" kata gue
  "Cie, sok berani lu" kata Anton
  "Heh, mukanya Andi yang ngalahin kolor ijo aja gue gak takut" kata gue
  "Kampret lu Zan" kata Andi
  "Terus aku ngapain Kak?" tanya Sesil
  "Ehm... Sesil jadi pengawas dari belakang" kata gue
  "Kalo setanya datang dari belakang?"
  "Enggak mungkin, kita kan gak punya cincin. Kalo ada apa-apa, Sesil cari tempat sembunyi aja ya" kata gue sambil nyengir.
  "Oke deh Kak..." kata Sesil

Akhirnya keputusan sudah bulat. Kami bertiga (gue, Andi, dan Anton) menunggu di dekat rumah gue sementara Sesil akan mengawasi dari dalam rumah saja. Semoga saja ide konyol gue ini berhasil...

Bersambung
********

  Episode berikutnya, Zano beserta Anton, Andi dan Sesil telah menyusun suatu rencana (konyol) untuk menjebak hantu. Apakah ini akan berhasil?

Part 3 DI SINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar