Sabtu, 08 Juni 2013

Kenangan di SMA

Oke, memang gak ada hubunganya sih

  Hey Sobat Readers!

  Sudah berapa hari Leaper tidak post di sini. Leaper jadi kangen.... Men kangen men. Postingan ini khusus untuk teman-teman SMAnya Leaper. Bagi Sobat Readers yang ingin baca juga silahkan, siapa tau bisa dapat mengambil hikmah dan pelajaran hidup. Ceritanya sedikit Leaper re-mix biar (paling tidak) lucu.

Postingan kali ini merangkum kenangan yang terjadi selama 3 tahun di sekolah. Mungkin gak semua kenangan terangkum di sini... tapi yah *angkat bahu*.


 Sekali lagi, memang gak ada hubunganya

   Beratus tahun lalu, dunia hidup dengan damai tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang (Gue mix dikit biar ceritanya jadi keren gitu). Hanya Avatar, seorang laki-laki kece misterius yang bisa menyelamatkan dunia. Tapi, dia malah menghilang... Dan kami sama sekali gak peduli karena kami tidak akan menceritakan kisah itu.

Beberapa tahun yang lalu, ada sesosok makhluk astral atau jangan-jangan alien seorang laki-laki yang bertampang di bawah standar sedang galau mencari-cari tempat untuk bersemayam SMA. Perjuanganya selama 1 hari tidak sia-sia. Dia menemukan sebuah SMA yang menurut naluri Xenomorphnya cocok.

Setelah melalui (serangkaian) tes dan MOS. Xenomorph Laki-laki yang sekarang nama samaranya adalah Leaper ini akhirnya diterima juga sebagai salah satu siswa di SMA tersebut yang bernama "SMA Xaverius Ambon".

Minggu-minggu pertama dari makhluk-makhluk astral nyasar siswa-siswi baru ini... Bisa dibilang seperti "hari pertama pergi sekolah" yang mainstream. Ketemuan teman-teman baru, guru-guru baru, kepala sekolah yang baru.

Hal pertama yang Leaper ketahui adalah lokasi kamar mandi. Kenapa harus kamar mandi? Karena membuang hasil dari sisa-sisa yang tak berguna pada tempatnya itu sangat penting (untuk Leaper).

  Leaper berkenalan dengan teman-teman baru.... dan semuanya tidak ada yang satu SMP/SD/TK dengan Leaper. Ini berarti Leaper memulai segala sesuatu dari awal. Leaper dan teman-teman Leaper dikelompokan pada kelas X-1.

Kisah yang mainstream pun terjadi pada kelas X. Mulai dari menemukan teman baik, menemukan hobi baru (Leaper tidak mempunyai hobi baru pada waktu kelas X), dll.

Leaper bisa menarik kesimpulan, selama kelas X. Leaper dan teman-teman sekelas (pada waktu itu) sangat sayang kepada Wali Kelas. Leaper juga merupakan siswa yang suka menulis cerita dan menggambar. Selain itu, Leaper sendiri sangat malas untuk keluar kelas.

Ini salah satu foto kenangan waktu kelas X
Ini belum seluruh anggota kelas lho

  Waktu berlalu, tak dirasa sekarang Leaper sudah kelas XI. Leaper dikelompokan dengan anak-anak lain di kelas XI-IPS 1. Sesaat, Leaper merasa seperti menjadi makhluk luar angkasa yang nyasar ke Bumi. Memang ada beberapa teman kelas X tapi dunia terasa asing men!

Ajaibnya, Wali Kelas untuk kelas XI-IPS 1 adalah Wali Kelas yang sama pada waktu kelas X.

Ketika menjadi kelas XI, hal pertama yang Leaper rasa adalah, rasa bangga. Leaper sekarang sudah menjadi Kakak kelas.

Kisah mainstream anak sekolahan juga terjadi (lagi). Hanya saja, kelas kami mempunyai julukan "FORCES" (Leaper sendiri lupa kepanjanganya apa) dan kelas kami... SERING gonta-ganti ruangan. Yang paling menarik, kami mendapat kelas yang katanya angker.

Leaper kurang tau pendapat teman-teman Leaper tapi Leaper sendiri tidak merasakan hal-hal yang aneh. Justru gue yang dianggap aneh. Gyehahahaha!

Ada 1 hal unik untuk Leaper selama di kelas XI. Leaper sudah mulai mengenal JKT48. Bahkan Leaper sendiri sudah berencana untuk pergi mencari lagu-lagu Mansyur S. (Oke, memang gak ada hubunganya dengan JKT48 sih).


Berhubung Leaper gak punya foto kelas XI,
Leaper pasang foto ini saja

  Setelah melalui perjuangan. Leaper dan teman-teman naik level ke kelas XII. Tidak ada perubahan yang begitu signifikan. Leaper tetap bersama teman-teman Leaper dari kelas XI-IPS 1. Leaper dikelompokan ke dalam kelas XII-IPS 1.

Tentu saja, ada sedikit perubahan. Salah satunya semua muka teman-teman Leaper sudah mulai kelihatan lebih "dewasa" dibandingkan dengan 2 tahun yang lalu. Mukanya Leaper sendiri? Kalau tidak mencukur jambang, Leaper terlihat seperti buronan Polisi sedangkan kalau dicukur tampang Leaper malah menginspirasi orang untuk bunuh diri.

  Tentu saja sebagai Kakak kelas XII, Leaper dan teman-teman mengikuti pemantapan. Jadi kita harus bangun lebih pagi daripada biasanya. Suatu hal yang mungkin menyiksa fisik dan batin bagi beberapa orang.

Hal-hal yang mainstream pada anak sekolahan juga terjadi (lagi dan lagi). Kita sekolah seperti biasa, pulang, kerja PR... atau paling tidak, nongkrong, warnetan, dll. Wali kelas kami... tetap wali kelas kami yang dari kelas XI.

Setelah melalui serangkaian ujian praktek, ulangan, dan akhirnya UN, sekolah kami lulus 100% ! Sesuatu banget ya? Semua teman-teman pada foto bersama dan coret-coret baju.

  Leaper tentu saja tidak kena coretan... Karena Leaper ada di rumah. Salah satu kenalan Leaper, doi berpikir daripada corat-coret baju mending bajunya dikasih buat yang lebih membutuhkan.

Katanya sih, doi pergi ke sekolah bawa flamethrower. Jadi kalau ada yang berani coret seragam doi, doi langsung balas "coret" pake flamethrower. Yoi, doi pake seragam... Memangnya ada beberapa Sobat Readers kira doi dateng sekolah pake koteka?! Hahahaha!

Sekarang gak nyangka kita sudah lulus. Semuanya sudah pada pergi mengejar cita-cita masing-masing... dan gue masih lupa ngambil ijasah dan sering pulang-balik belanda (belakang dapur).

Sebenarnya Leaper sendiri ingin post gambar dari teman-temannya Leaper tapi takutnya nanti ada yang ngamuk. Sebagai penutup, Leaper memutuskan untuk memasang foto sendiri.


Leaper malas nunjukin muka asli Leaper




Dia enggak ada hubunganya
dengan postingan ini.
Anggap aja memperpanjang post

  Oke Sobat Readers. Demikian rangkuman (suram) Leaper selama 3 tahun di SMA. Memang tidak semua kisah di SMA ditulis di sini.

Selamat malam biasa saja di hari Sabtu ini!

1 komentar:

  1. Kaget saya ada yg komen di postingan yg ini. O.o
    Yaaah, saya gak tau sih bagian menariknya di mana tapi... trims Sob XD

    BalasHapus