Senin, 24 Juni 2013

Zano & Kawanan : Mengejar Impian Part-3

  Zano & Kawanan : Mengejar Impian adalah sebuah cerita dari title "Zano & Kawanan" buatan Leaper. Entah apa yang memotivasi Leaper untuk menulis cerita ini.

Part sebelumnya, Setelah menyelesaikan "latihan". Stella kini resmi bergabung dengan Sesil. Tentu saja masih perlu beberapa anggota lagi. Siapakah yang kali ini akan direkrut Zano?

Happy Reading!



******
Zano & Kawanan
Mengejar Impian
Part-3
Orang Luar!

  "Zan, lu yakin ini tempatnya?"
  "Ini memang tempatnya"
  "Gak salah tuh saudaranya Naruto tinggal di situ?"

  Itulah percakapan singkat antara gue dan Andi. Kami sekarang berada di depan sebuah rumah yang berada pada ujung kampung kami yang paling Timur. Sebenarnya ini rumah apa bukan sih?! Kalau dilihat dari ukuran sih iya tapi...

  "Heh, daripada kita berdua cuma berdiri mirip homo mending kita langsung masuk aja ke dalam"
  "Kampret lu"

Kami berdua berjalan mendekati gedung aneh itu. Sebenarnya ketika kami menjadi Sekuriti hansip, kami memang sering berjalan melewati gedung ini tapi kami tidak pernah berniat mendekati gedung itu.

Pertama karena bentuknya yang tidak lazim seperti rumah mainstream yang ada di Indonesia. Kedua, gedung itu sudah lama kosong. Kami tau itu milik Hiromi. Gedung itu sebenarnya akan dijadikan rumahnya Hiromi kelak ketika dia pindah ke Indonesia.

Satu-satunya orang yang sering keluar masuk rumah itu adalah Screamer. Memang Screamer punya hubungan pertemanan dengan Hiromi. Gue sendiri gak mau tau bagaimana caranya Hiromi bisa kenalan dengan sosok misterius itu.

  Sebenarnya gue pengen cari Screamer tapi gue dan Andi tidak tau mau mencari tuh anak di mana. Stella dan Sesil mungkin mengerti rumah yang kayak beginian tapi sekarang mereka berdua lagi serius berdiskusi. Andi kebetulan hari ini dia gak ada kerjaan, jadi dia memutuskan untuk pergi dengan gue.

Ya benar, orang yang selanjutnya ingin gue rekrut adalah Hiromi. Selain punya ketertarikan dengan Indonesia, Hiromi juga sering nonton Saving Private Ryan... Oke memang tidak ada hubunganya sama sekali.

  Kami berdua mendekati rumahnya Hiromi.  Rumahnya bagus, aneh (untuk kami), rindang, ada kolam ikan kecil di samping. Untung ini masih siang bolong jadi kesan horor pada rumah ini sama sekali tidak terlewat dipikiran kami. Selanjutnya tinggal mengetuk pintu dan...

Kampret.... Gak ada pintunya! Ini sebenarnya rumah atau apaan sih? Gue menatap Andi. Andi menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak menemukan pintunya.

  "Zan, lu yakin ini rumahnya Hiromi?" tanya Andi
  "Iya. Gue yakin ini rumahnya dia" jawab gue dengan tampang absurd
  "Tapi gak ada pintunya bego!"
  "Siapa tau aja dia masuk lewat atap?" Gue melihat ke atas
  "Lu gila ya? Gue tau dia dari Jepang tapi dia bukan ninja!"

Sebuah perdebatan tak berguna pun tak terhindarkan lagi. Kami berdua berdebat tentang bagaimana caranya Hiromi memasuki rumahnya. Ketika sementara berdebat, kami mendengar sebuah suara dari belakang.

Karena gue udah gak sabar untuk nonton video klip JKT48 yang Sesil janji untuk diputar nanti kalau gue bosan menunggu mereka. Gue dan Andi berjalan ke belakang rumah. Kami melihat sekeliling. Kosong gak ada apa-apa.

BLETAK! BLAK!

  "UARRRGH!!!!" gue dan Andi berteriak kesakitan

Ada yang menghajar kepala kami berdua dari belakang. Gue rasa kepala kami dihajar dengan semacam bambu. Kami berdua jatuh.

  "Hayo! Kalian siapa?"

Terdengar suara dari belakang. Hm... Suara yang kedengaranya lucu... Ini pasti...

  "Hiromi!"

Gue membalikan badan dan memang benar, Hiromi. Gue enggak tau dia pake seragam apaan tapi yang jelas ada sebuah pedang yang kayaknya dibuat dari bambu ada di tanganya. Andi juga membalikan badanya sambil mengelus-ngelus kepalanya. Spontan, ekspresi Hiromi langsun berubah dari yang menatap kami dengan curiga menjadi ketakutan.

  "KYAAA!!! NOPPERABOU!" Hiromi langsung berlari menjauhi kami berdua
  "Ha? Hiromi woy! Ini kita!" Gue malah bingung

  Hiromi (sepertinya) memberanikan diri untuk menoleh ke kami berdua. Dia terlihat kaget, mengucak matanya sebentar lalu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, dia (akhirnya) tenang juga.

  "Gomen. Awalnya Aku kira kalian orang jahat, setelah itu kukira kalian..."
  "Tega lu. Gak usah dilanjutin..." jawab gue sambil berdiri. Andi juga berdiri.
  "Kalian tidak apa-apa?" tanya Hiromi
  "Ya. Hanya sedikit pusing" jawab gue dan Andi kompak

 Gue menjelaskan maksud kedatangan kami dan gue juga menjelaskan perdebatan kami tadi tentang pintu. Tentu saja sambil menahan rasa sakit akibat hantaman yang tadi. Aw.... Kepala gue sakit. Kayaknya ketika pulang gue harus nonton Tom & Jerry.

  "Hihihihi" Hiromi tertawa. Suara tawanya membuat gue jadi gemas. "Itu pintu geser"
  "Pintu apa?!" tanya gue
  "Pintu geser. Aku tidak heran kenapa kalian bingung" jawab Hiromi sambil tersenyum.
  "Ooooh! Saya baru ingat! Ahahahaha" Andi sepertinya mengerti maksud Hiromi kemudian tertawa. Suara tawanya benar-benar membuat gue ingin menimpuk mukanya.


*****

  "Wah, Hiromi-san. Dalam rumahmu bernuansa Jepang. Luar biasa! Kalau Sesil dan Stella ke sini mereka pasti sangat betah" ucap Andi.
  "Arigatou. Kalau boleh tau, nuansa rumahnya Andi-kun seperti apa?" tanya Hiromi
  "Bayangkan saja sarang teroris. Seperti itulah rumahnya Andi" jawab gue
  "Kau!!!" Andi mendorong kepala gue

Memang rumahnya Andi seperti sarang teroris. Penuh dengan replika senjata. Tentu saja, mereka hanyalah replika. Orang bodoh saja bisa mengetahuinya. Memang senjata-senjata replika di rumahnya Andi disengajakan aneh.

  Harus gue akui. Di dalam rumahnya Hiromi tak sehoror di luarnya. Di dalamnya sangat mirip dengan sebuah rumah yang pernah gue lihat di Jepang. Segala sesuatu di dalamnya bernuansa Jepang.

Hiromi hanya tertawa. Gue yakin pasti karena kami berdua terlihat seperti anak kecil.

  "Ah iya, Hiromi!" seru gue
  "Eh?"
  "Yang barusan itu... apaan?" tanya gue
  "Oh, itu kendo. Aku dari kecil sudah senang dengan kendo"
  "Kendo ya?" Gue mengelus dagu. Ya, gue gak ngerti kendo itu apa.
  "Aku dengar kalian berdua punya kemampuan bela diri yang unik" kata Hiromi
  "Ah, lebih tepatnya ke arah improvisasi berhubung gue dan Andi sama sekali tidak mengerti bela diri" gue menepuk Andi.
  "Kalau begitu... Maukah kalian bertanding melawanku?"

Kami terkejut. Gue berpikir mana mungkin kami bisa menandingi orang seperti Hiromi yang sejak kecil sudah belajar kendo. Kami hanya bermodalkan gaya improvisasi asal-asalan saja.

  "Ya. Tantangan diterima!" ucap Andi dengan tampang sok heroik.
  "APA?!" itulah respon gue. "A-A-Andi?!" 
  "Kalau kami menang, kau harus bergabung dengan kelompok dancenya Sesil. Kalau kau yang menang, kita akan membersihkan rumahmu selama seminggu!"
  "Baik. Mohon kerjasamanya" Hiromi menunduk.

Andi juga menunduk. Andi mendorong kepala gue ke bawah. Kampret, kok situasinya jadi mirip taruhan ya?

*****

  Sekarang gue sudah memakai pelindung badan dan kepala. Gue rasa ini bakal sangat berguna untuk mengurangi rasa sakit dari senjata milik Hiromi. Gue juga memakai senjata yang sama dengan Hiromi. Gue melihat ke Andi. Tuh anak cuma duduk menonton kami yang sedang berhadapan. 

Hiromi hanya memakai 1 senjata saja. Gue sebenarnya punya 2 tapi yang gue pake hanya 1 saja. 1nya lagi gue taruh di tanah alias gue gak pake.

  "Andi, lu kenapa masih pake baju rumah? Mana senjata lu? Mana pelindung badan dan kepala lu?" tanya gue
  "Lu sendirian aja sudah cukup" jawab Andi seperti anggota boyband yang belum sikat gigi.
  "Eh, Zano sehebat itu ya?" tanya Hiromi yang sudah memasang kuda-kuda. Gue yakin dia pasti merasa aneh melihat kuda-kuda gue yang terkesan asal-asalan.
  "Ya... Mekipun tampangnya kurang meyakinkan tapi Zano adalah orang yang mempunyai kemampuan bela diri yang luar biasa. Spesialisasinya adalah malam hari." jawab Andi
  "Heee, Sugoi" ucap Hiromi. Gue gak ngerti dia ngomong apaan. "Jangan-jangan dia..."
  "Ya! Dia adalah seorang naitogādo!" jawab Andi sambil nyengir 

  *naitogādo artinya penjaga malam*

Hiromi menatap gue dengan takjub seolah-olah gue ini saudaranya Sun Go Kong yang nyasar ke bumi terus kepleset di tangga tanpa luka sedikitpun.

Jujur, gue sendiri gak ngerti istilah yang tadi itu apa artinya. Tapi yang jelas, dulu gue adalah anak SMA yang pernah disewa jadi penjaga malam di berbagai instansi. Inilah untungnya kalo punya kenalan kiri-kanan.

  "Baik.. Cukup curhatnya. Sekarang adalah sesi tanya jawab... Eh, maksud gue. Mari kita selesaikan!" kata gue ke Hiromi

  Hiromi mengangguk. Tanpa ragu-ragu, gue mulai berlari ke arah Hiromi tapi tiba-tiba gue malah tersandung dan jatuh ke tanah. Gue berdiri lagi.

  "Eh.. Zano-kun! Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Hiromi. Kayaknya nih orang ragu-ragu mau melawan gue.
  "Hehe, boleh juga kau Hiromi!" puji gue
  "Tapi... Aku belum melakukan apapun" Hiromi menatap gue dengan bingung
  "Gue tau! Gue cuma mau menambah rasa percaya diri"

Gue berpikir sejenak. Hiromi pasti sudah terbiasa melawan orang yang memakai 1 pedang bambu. Kalau begitu... Gue harus memakai 2 pedang bambu. Gue langsung mengambil pedang bambu yang tadi gue letakan di tanah. Sekarang gue sudah memakai 2 pedang bambu. 1 di tangan kiri sementara satunya lagi di tangan kanan.

Mungkin bagi beberapa orang pedang bambu sangat berat tapi entah kenapa pedang bambu terasa sangat ringan di tangan gue.

  "Eh? Apa itu?" bisik Hiromi ke dirinya sendiri. Gue kurang tau kenapa gue bisa mendengar suara bisikan Hiromi.

Sekali lagi gue menyerang Hiromi. Tentu saja, tanpa tersandung. Hiromi menangkis serangan gue dengan cepat tapi gue lebih cepat hahaha. Tanpa memberikan sedikit jeda, gue terus menyerang Hiromi dengan 2 pedang bambu.

Hiromi memang bisa menangkis tapi cuma masalah waktu saja sebelum pedang bambu gue berhasil menjebol pertahananya.

BLETAK!

  "Kyaa!"
  "Maaf Hiromi! Gue gak sengaja!"

Salah satu pedang bambu gue mengenai kepala Hiromi. Gue dan Andi menghampiri Hiromi. Bukan, kami bukanya modus tapi kami memang kawaktir!

  "Ah... Aku kalah" Hiromi melepas pelindung kepalanya. "Zano-kun hebat!" puji Hiromi
  "Hebat apanya? Itu semua gerakan adalah hasil improvisasi doang" jawab gue dengan ekspresi yang sangat datar
  "Yah, aku rasa mungkin aku harus bergabung dengan kelompok dancenya Sesil ya?" ucap Hiromi sambil tersenyum.
  "Gak juga" jawab gue dengan santai
  "Lho? Zano?! Tapi... Lu kan udah menang" kata Andi
  "Yang Sesil perlukan adalah teman seperjuangan bukan anak buah. Jadi, Hiromi..." gue membantu Hiromi untuk berdiri (gue enggak modus). "Bergabung atau tidak itu adalah hak milikmu. Gue gak akan memaksa" gue mengacungkan jempol.
  "Zano-kun, aku ingin bergabung bukan karena masalah perjanjian yang tadi. Aku memang suka menari juga" jawab Hiromi. "Mohon bantuanya ya"
  "Ahaha, ya! Gue yakin Sesil dan Stella akan senang. Mohon kerjasamanya"

Mendengar jawaban itu gue jadi lega. Ternyata Hiromi mengikuti kata hatinya.

  "Zano-kun, ternyata kau itu lebih bijak dari dugaanku ya"
  "Ha?"
  "Hey bentar, sekarang Hiromi-san sudah resmi bergabung... Apa masih ada orang lain lagi Zano yang mau lu rekrut?"
  "Hm..." Gue menggaruk kepala.

*****
Bersambung

  Part berikutnya, Sekarang Hiromi sudah resmi bergabung. Siapakah orang yang akan direkrut Zano selanjutnya?

Part berikutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar